Babah Tan Lan Siong mengadu kepada polisi di lingkungan Kampung Cina
(Pecinan). Pasalnya ia punya isteri kabur,dan membawa anaknya yang berusia
2 tahun. Pemilik toko Tiga ini sebetulnya punya isteri empat dan tinggal
dalam satu atap. Jadi kalau si Puti, demikian ia menyebut nama isterinya
tersebut kabur mustinya dia tidak heboh betul. Babah nampak gusar dengan
kepergian salah isterinya. Apakah "nyai" ini begitu disayanginya sampai ia
melapor agar isterinya segera dilacak keberadaanya. Atau ada pihak ketiga
yang mengacak rumah tangganya, demikian pertanyaan khalayak.
Rupanya Puti, yang sudah punya anak satu berusia 2 tahun, kabur bersama
emas dan intan seharga 1700 gulden (4 juni 1903), sehingga menimbulkan
kegusaran babah Siong sampai berujar sebagaimana dikutip Bintang Betawi
"Biar semua bini lari "ngai" trada sedih. Yang penting itoe ngai punya
barang bisa kombali...."
Oooo itu ya...
Sikap Baba Siong mencerminkan kehidupan orang di Betawi pada masa lalu.
Kalau kemudian beberapa anak cucunya beberapa ratus tahun kemudian
berkilah bahwa lelaki bisa berpolygami adalah lelaki istimewa, pertama
istimewa sebab banyak orang lelaki kepingin VOLLY tapi takut, dan istimewa
kedua adalah isteri yang membagi cinta dengan merelakan suami berakrobat
ditempat tidur dengan itoe madoe (selir). Istimewa ketiga
kalau bisa memuslihati isteri "bahwa barang siapa mengijinkan suami naik
ranjang(lagi), maka dibukakan pintu (bagi) nya untuk naik sorga."
Persoalannya Baba Siong dan juga warga Belanda umumnya menganut "satu yang
sudah dipersatukan tiada boleh dipisahkan manusia" maka dogma tadi
dipelesetkan menjadi "kalau tidak boleh memisahkan, menambah lagi
bagaimana...?"
Apalagi sikap kebanyakan prempuwan Betawi masa itu sudah cukup lega bisa
ditaksir bangsa lain, dan cukup jadi nyai saja. Dalam salah Novel
"Peniti-dasi Barlian" diterbitkan oleh koran Sin Po, 1922 tertulis
"Kau satu orang Tionghoa, maka musti punya istri-kawin orang Tionghoa
juga. Aku cuma orang Bumiputra, maka jika kamu ingin menikah pula, dengan
senang hati, aku nanti mengambil tempat sebagai gundik saja." demikian
kata Soemarti kepada suaminya Liang Jin. Dalam cerita dikatakan bahwa
Soemarti sendiri melamarkan gadis bernama Hong Nio, untuk "lukir" dengan
Soemarti menjadi isteri sahnya. Sedeng(kan) Soemarti rela turun di anak
tangga ke "nyai"... [Novel Peniti-Dasi Barlian, Tan King Tjan 1922]
Setelah Kompeni membangun kerajaan di reruntuhan Jayakarta, memang banyak
terjadi permainan Volly. Istilah "Belanda masih jauh" kemungkinan besar
berasal dari VOC yang intinya pernyataan, eloe mau jungkir balik di
Betawi, mevrouw di Denhaag atawa Leiden juga tidak
tahu.
Dipicu oleh kenyataan banyak isteri pembesar VOC yang enggan ke
negeri yang dilukiskan pada peta masih banyak kanibal di pulau Jawa (foto
pameran peta di Musium Arsip Nasional). Akibatnya bisa diduga, mereka
terpaksa melepaskan kebutuhan primitifnya dengan cara "nempur" atau
nyicil.
Jelasnya jual beli "apem bantat" menjadi meraja lela, apalagi
jumlah perempuan
di Betawi waktu itu masih sangat sedikit.
Seorang pengamat
pada 1706 Valentijn mengatakan "nyaris tidak seorang Belandapun yang
terpandang di Jawa, yang tidak mempunyai gundik...."
Pada akhir abad ke-18, putera Gubernur Jendral van Riemsdijk yang bernama
Williem Vincent Helvetius, dengan koneksi sang ayah menguasai perkebunan
dari di kawasan Cibinong, Cimanggis, Tanah Abang dan beberapa tempat
lainnya. Untuk mengerjakan perkebunannya ia
mengerjakan budak-budak dari Pribumi dan Cina.
Agar perkebunan bisa di kelola dengan baik, maka disetiap gerai perkebunan
ia menikahi perempuan setempat. Jadi bisnis dan plezir digabung disini.
Pada saat kematiannya tercatat ia memiliki istri 14, 10 "sepia" atau
kekasih gelap, dan 24 anak yang tercatat. Itu diluar
anak gelap.
Salah satu penyelianya adalah Andries yang tugasnya membuat observasi dan
catatan dengan berkeliling perkebunan. Dia melihat bahwa sekalipun
startnya sama-sama boedak, ternyata boedak Cina selalu berusaha lebih
keras untuk maju dan menghalalkan segala cara. Entah itu halal atau tidak.
Sementara boedak pribumi dikatakan ogah-ogahan bekerja, kurang daya
juangnya dan kurang memikirkan masa depan.
Pengamatan Andries ini dikonfirmasikan bahwa pada akhir abad ke 18, para
budak Cina sudah naik status menjadi tuan tanah dan pengusaha-pengusaha
yang mempekerjakan pribumi. Banyak rumah yang dahulu mereka menjadi budak,
berbalik dibeli oleh mereka.
Sedikit berbeda dengan "bapak pendiri Depok," Cornelis Chastelein. Toean
campuran Belanda Perancis, tapi Perancisnya banyak. Ia penganut agama
ngelotok sekaligus sebagai orang yang terpandang dalam kelompoknya dia
membenci bisnis apem bantat. Sehingga prinsipnya lebih
baik beli harga grosir daripada ketengan jatuhnya mahal. Tidak
tanggung-tanggung dia mengawini dua perempuan pribumi. Bapak pendiri Depok
ini mengimpor 12 keluarga dari pelbagai Suku seperti Bali, Bugis,
Kalimantan dsb.
Chastelein mengambil dua perempuan Bali sekaligus. Sekalipun ia sudah
disatukan dengan orang Belanda bernama Catharina van Vaalberg. Dari
pernikahannya itu, ia dikaruniai seorang anak yang diberi nama sama dengan
ayahnya, Anthonie Chastelein.
Chastelein ini penggawe tinggi VOC, yang minta pensiun dini lalu inves di
hutan belantara Depok, lalu minta Merdeka pada VOC dan dikabulkan. Jadi
boleh dibilang dia adalah negara yang kepingin merdeka dan berhasil. Tanpa
pertumpahan darah.
Kuburnya ada di belakang RS Hermina Depok.
Dipihak lain seorang Mayor (Cina), bernama Khouw Kim An juga dikabarkan
mempunyai isteri yang banyak. Mereka tinggal di rumah yang bernama Sing
Ming Hui sekarang Chandra Naya dulu kediaman Majoor der Chineezen Khouw
Kim An (1875-1945). Beralamat jalan Molenvliet West
(Jalan Gajah Mada 188). Rumah ini dikabarkan memiliki rumah dengan 100
kamar, diisi oleh 14 orang isteri dan anak-anaknya. Untuk catatan gedung
Sing Ming Hui adalah cikal bakal Universitas Atmajaya nantinya. Gedung ini
sekarang terancam digusur, dengan alasan Feng Sui kurang cocok. Padahal
dalam staat monumenten ordonnantie, Sing Ming Hui adalah gedung bersejarah
yang harus dilindungi.
Lalu, Oei Tiong Ham, Kapitan Cina dari Semarang sebagai raja Tebu dan
Pabrik Gula di Semarang, dan konglomerat jaman dulu tidak diragukan lagi
mempunyai banyak isteri. Cuma alasannya rada aneh, ia ingin mengawini
banyak perempuan agar bisa dapat anak lelaki untuk
meneruskan usahanya. Majalah Intisari pernah memuat kisah OTH, cuma sayang
saya tidak bisa menemukan arsipnya.
Kelihatannya banyak dari kita menurun sifat ini....
Hanya kalau sekarang
alasannya lebih canggih dengan dalil-dalil yang sepintas shahih.
Mimbar Seputro
Juni 2003