APEM BANTAT DARI OLANDA
Kita semua tahu kue apam atau apem yang sering dinamakan juga kue
mangkok. Dulu warnanya hijau lantaran diberi daun pandan, belakangan di
pedesaan kue apem lebih meriah lagi. Bahkan tenda pesta yang
biasanya tidak ada hiasan bunga sama sekali, masih bia dimeriahkan
oleh warna merah, hijau, cokelat dari kue apem tadi. Warna-warna ini
ditimbulkan dari pemberian "sepuhan" atau teres atau bahan pewarna
pakaian untuk bahan makanan.
Di desa Citayam kalau ada "keriaan", pesta perkawinan yang sifatnya
ria-ria, maka saya sering dapat jatah semangkuk kue apem dengan warna
yang aduhai. Dan itu satu-satu makanan yang tidak pernah saya sentuh,
walaupun melihat warnanya sangat mengundang selera.
Lama-lama mereka hapal lantaran saya tidak pernah menyentuh penganan
tersebut kecuali bangsanya pisang, atau buah-buahan lain. Lalu saya
bilang zat pewarna kain yang kalian pakai ini menakutkan saya.
Lain kali saya dikirimi penganan khusus, kalau semula apemnya merah
manyala, sekarang merah jambu. Tapi kan masih pakai "wenter",
akibatnya kalau dimakan sering menyisakan rasa pahit.
Bahan dasarnya adalah tepung beras yang diberi sejenis ragi sehingga
menjadi empuk. Di Bandung jadi kue mangkok.
Tetapi ada apem yang tidak mekar sering disebut "apem bantat." Dan
heirannya, "apem bantat" ini diimpor dari Belanda.
Dan apa hubungannya apem bantat dengan VOC
Ketika VOC datang ke Betawi yang terkenal diawal abad ke 20 sebagai De
Koningin van het Oosten (Ratu kota dari dunia timur). Para pegawainya
datang tanpa pasangan. Perempuan yang bisa ditemui di Betawi sehingga
dari kantor gubernemen sampai kantor dagang cuma orang Cina atau
Pribumi.
Untuk melepaskan dahaga para kompeni ini didatangkan para PSK dari luar.
Remy Sylado dalam Ca Bau Kan menuliskan bagaimana pelacuran ini
berkembang dikalangan penggede Kumpeni. Bagaimana tokoh Tinung perempuan
aseli Betawi harus belajar menyanyi Cina, sekalipun tidak
mengerti maksudnya, agar bisa memuaskan pelanggan-pelanggannya yang
saat itu umumnya datang dari Shantung.
Lambat laun istri para penggawe dari Belanda ini mulai didatangkan
dengan menaiki kapal uap. Mereka dikabarkan amat bersoeka-tjita
lantaran di Betawi, juga ada rumah mode ala Paris, minyak wangi ala
Boldoot. Dikatakan bahwa perempuan Belanda ini sangat kaku, terutama
suka sekali menyiksa para hamba sahaya. Mereka yang beruntung, hidup
cuma bersolek, plezieren dan pindah dari satu pesta ke pesta lainnya.
Tetapi ada juga yang tidak "hokie" dan umumnya mengambil jalan pintas,
yaitu "jalan hina" dengan bekerja di tempat plesiran. Untuk itu koran
Selompret Malajoe pada 28 April 1903 menulis " Lantaran zaman ini cari
nafkah terlalu susah, maka di Betawi sekarang banyak perempuan Belanda
berlaku dan suka di "jalan hina". Hampir bisa ditemukan di mana rumah
perempuan, tentu ada perempuan Belanda yang dagang ia punya "Apem
Bantat".
Tidak dijelaskan apakah bagian tubuh Noni Belanda yang ambil bagian
cuma 1% dari tubuh manusia ini lebarnya kalau diukur sama dengan kue
apem yang bantat, atau ada maksud terselubung dari istilah ini.
Bicara soal kue, entah mengapa pada saat daerah Grogol masih kawasan
penuh Rawa, para perempuan pelaku "jalan hina" yang mangkal sepanjang
jalan S Parman sering dipanggil pedagang "Kue Baskom".
Yang mengherankan di Rumania, para penjual "apem bantat" bahkan sudah
berani membuat terobosan. Mereka sudah bergeser dari model pemasaran
"cashflow" ke Pra-bayar. Maksudnya, pelanggan boleh mencicipi "apem
bantat", dan tagihannya dibayarkan setelah gajihan. Ini rada beda
dengan model juwalan "cash-flow" dimana setelah dibayar cash, baru
boleh flow.
Mimbar Bambang Seputro
Juni 2003