bannerWelcome to Informasi lanjut Rodent Tuber atau Silahkan hubungi ibu Erni Mimbar di 0812-802-5102 - Jakarta 
Situs Campur Bawur
Tahun Indul Daratista 

APEM  BANTAT DARI OLANDA

 

Kita semua tahu kue apam atau apem yang sering dinamakan juga kue mangkok. Dulu warnanya hijau lantaran diberi daun pandan, belakangan di pedesaan kue apem lebih meriah lagi. Bahkan tenda pesta yang biasanya tidak ada hiasan bunga sama sekali, masih bia dimeriahkan oleh warna merah, hijau, cokelat dari kue apem tadi. Warna-warna ini ditimbulkan dari pemberian "sepuhan" atau teres atau bahan pewarna pakaian untuk bahan makanan.

 
Di desa Citayam kalau ada "keriaan", pesta perkawinan yang sifatnya ria-ria, maka saya sering dapat jatah semangkuk kue apem dengan warna yang aduhai. Dan itu satu-satu makanan yang tidak pernah saya sentuh, walaupun melihat warnanya sangat mengundang selera.
 
Lama-lama mereka hapal lantaran saya tidak pernah menyentuh penganan tersebut kecuali bangsanya pisang, atau buah-buahan lain. Lalu saya bilang zat pewarna kain yang kalian pakai ini menakutkan saya.
 
Lain kali saya dikirimi penganan khusus, kalau semula apemnya merah manyala, sekarang merah jambu. Tapi kan masih pakai "wenter", akibatnya kalau dimakan sering menyisakan rasa pahit.
 
Bahan dasarnya adalah tepung beras yang diberi sejenis ragi sehingga menjadi empuk. Di Bandung jadi kue mangkok.
 
Tetapi ada apem yang tidak mekar sering disebut "apem bantat." Dan heirannya, "apem bantat" ini diimpor dari Belanda.
 
Dan apa hubungannya apem bantat dengan VOC
 
Ketika VOC datang ke Betawi yang terkenal diawal abad ke 20 sebagai De Koningin van het Oosten (Ratu kota dari dunia timur). Para pegawainya datang tanpa pasangan. Perempuan yang bisa ditemui di Betawi sehingga dari kantor gubernemen sampai kantor dagang cuma orang Cina atau Pribumi.
 
Untuk melepaskan dahaga para kompeni ini didatangkan para PSK dari luar.

Remy Sylado dalam Ca Bau Kan menuliskan bagaimana pelacuran ini berkembang dikalangan penggede Kumpeni. Bagaimana tokoh Tinung perempuan aseli Betawi harus belajar menyanyi Cina, sekalipun tidak mengerti maksudnya, agar bisa memuaskan pelanggan-pelanggannya yang saat itu umumnya datang dari Shantung.

 
Lambat laun istri para penggawe dari Belanda ini mulai didatangkan dengan menaiki kapal uap. Mereka dikabarkan amat bersoeka-tjita lantaran di Betawi, juga ada rumah mode ala Paris, minyak wangi ala Boldoot. Dikatakan bahwa perempuan Belanda ini sangat kaku, terutama suka sekali menyiksa para hamba sahaya. Mereka yang beruntung, hidup cuma bersolek, plezieren dan pindah dari satu pesta ke pesta lainnya.
 
Tetapi ada juga yang tidak "hokie" dan umumnya mengambil jalan pintas, yaitu "jalan hina" dengan bekerja di tempat plesiran. Untuk itu koran Selompret Malajoe pada 28 April 1903 menulis " Lantaran zaman ini cari nafkah terlalu susah, maka di Betawi sekarang banyak perempuan Belanda berlaku dan suka di "jalan hina". Hampir bisa ditemukan di mana rumah
perempuan, tentu ada perempuan Belanda yang dagang ia punya "Apem Bantat".
 
Tidak dijelaskan apakah bagian tubuh Noni Belanda yang ambil bagian cuma 1% dari tubuh manusia ini lebarnya kalau diukur sama dengan kue apem yang bantat, atau ada maksud terselubung dari istilah ini.

Bicara soal kue, entah mengapa pada saat daerah Grogol masih kawasan penuh Rawa, para perempuan pelaku "jalan hina" yang mangkal sepanjang jalan S Parman sering dipanggil pedagang "Kue Baskom".

 
Yang mengherankan di Rumania, para penjual "apem bantat" bahkan sudah berani membuat terobosan. Mereka sudah bergeser dari model pemasaran "cashflow" ke Pra-bayar. Maksudnya, pelanggan boleh mencicipi "apem bantat", dan tagihannya dibayarkan setelah gajihan. Ini rada beda dengan model juwalan "cash-flow" dimana setelah dibayar cash, baru boleh flow.
 

Mimbar Bambang Seputro
Juni 2003
 

Comment to Mimbar Bambang Seputro

  Site search Web search

powered by FreeFind

updated 21 Juni 2003
"Mimbar"  Bambang Seputro
mimbarse@gajahsora.net


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Site Meter