Hujan Pun Membawa Berkah
Di seputaran pergantian tahun Masehi dan tahun Imlek, musim durian dan rambutan, biasa ditandai dengan musim hujan berkepanjangan plus bonus banjir di mana-mana. Para pemilik warung, toko, resto, pada mengeluh : "Kalau hujan terus-terusan begini alamat rejeki berkurang.....". Keluhan semacam ini sudah jadi bagian basa-basi percakapan keseharian para bakul dan pengusaha warung, toko atau resto. Maka ungkapan seperti : "Toko saya sepi akibat hujan terus-menerus" akan sering terdengar di saat-saat seperti ini.
Kalau bisa dituliskan dengan persamaan matematika, maka rumusnya
para bakul itu seakan-akan menjadi JP = 1/H, dimana : JP = jumlah
pembeli dan H = hujan. Banyaknya pembeli akan berbanding terbalik
dengan banyaknya hujan. Semakin sering hujan turun ke bumi maka
pengunjung toko semakin sedikit, yang berarti potensi keuntungan
yang dapat diraih juga semakin sedikit. Gampangnya, semakin sering
hujan, rejeki semakin seret.
Padahal dari sono-nya, Sang Maha Pembuat Hujan tidak pernah
sekalipun merencanakan untuk mengurangi rejeki para pengusaha kecil,
para bakul atau siapapun dengan cara menghujaninya, melainkan hanya
mengaturnya dengan skenario berbeda. Kata Sang Maha Pembuat Hujan :
"Lho, hujan itu juga rejeki bagi kalian semua baik yang bakul,
pengusaha atau pengangguran sekalipun.....".
Tapi apa lacur, hujan sudah kadung identik menjadi tanda bagi
berkurangnya pembeli yang belanja di warung, toko atau resto. Kalau
demikian, pasti telah terjadi mis-understanding, salah paham antara
maksud Sang Maha Pengusaha Pabrik Hujan dan para pengusaha yang
kehujanan.
Kata para pelayan "Madurejo Swalayan", kalau pas hujan deras
mengguyur memang banyak juga orang-orang lewat yang kehujanan
kemudian numpang berteduh. Saya jadi ingat saat-saat awal
beroperasinya "Madurejo Swalayan", ada seorang pengunjung yang
mengeluh tempat parkirnya panas. Keluhan itu saya terjemahkan
sebagai usulan agar dipasang atap peneduh. Usul itupun kemudian saya
penuhi. Dan sekarang ternyata ada manfaatnya, ya itu tadi, membantu
menyediakan tempat berteduh kepada orang lewat yang kehujanan.
Kehujanan lalu berteduh, adalah aktifitas yang tidak ada orang
pernah merencanakannya. Oleh karena itu orang-orang seperti ini pada
dasarnya cenderung sedang "kebingungan". Tiba-tiba saja harus
menghabiskan waktu dengan aktifitas yang membosankan, menunggu hujan
reda. Ada ide? Sodorkan selebaran infomezzo TIPS, biar dibaca-baca
sambil menunggu hujan berlalu. Kebanyakan orang yang sedang "kebingungan"
seperti ini tidak akan merasa cukup untuk membaca hanya sekali,
barangkali sampai diulang-ulang membacanya karena hujan tak berhenti
juga. Apalagi kalau orang itu sendirian.
Maka dua kebaikan sudah dilakukan dengan tanpa direncana sebelumnya,
memberi peneduh dan memberi bacaan bermanfaat . Sederhana sekali.
Tapi saya melihat kejadian ini dari bingkai yang berbeda. Ini adalah
potret dengan bingkai yang bernama "opportunity". Moga-moga saja
kebaikan semacam ini juga termasuk kontribusi sosial yang bukan
berupa uang, yang menurut "ngelmu gaib" bisa menjadi tabungan yang
punya nilai berkah tak terduga.
Suatu sore saya lihat ada dua orang berboncengan naik sepeda motor
kehujanan. Lalu berbelok masuk ke halaman "Madurejo Swalayan"
numpang ngeyup (berteduh). Hujan turun cukup deras dan agak lama,
lalu tidak lama kemudian salah seorang masuk toko dan membeli rokok.
Entah karena kedinginan, entah karena bengong kelamaan menunggu
hujan tak kunjung reda, entah memang persediaan rokoknya habis,
entah karena kehabisan bahan obrolan, atau barangkali buat
pantes-pantes merasa tidak enak sudah nunut ngeyup. Apapun alasannya,
saya senang kalau ternyata halaman toko saya bisa membantu orang
lain berlindung dari terpaan hujan. Kalau akhirnya ada yang masuk
toko dan belanja atau terserang virus impulse buying, sungguh itu di
luar tanggung jawab saya
Suatu kali ada seorang sales sepedamotoran yang berkunjung ke "Madurejo
Swalayan" dalam rangka mencatat order mingguan. Biasanya sales
ini akan buru-buru langsung pergi melanjutkan perjalanannya seusai
mencatat pesanan barang. Tapi berhubung hujan turun cukup lebat,
terpaksa dia menunggu dulu. Ini tentu menjadi aktifitas yang tidak
pernah direncanakannya. Dengan kata lain dia pun sebenarnya sedang "kebingungan".
Membaca selebaran TIPS bisa jadi penghibur dan pengisi waktu. Kalau
kemudian sales itu pun membeli rokok dan permen atau snack, sekali
lagi itu benar-benar di luar tanggung jawab saya.
Apa yang dapat saya petik dari kejadian ini? Memang benar apa kata
Sang Maha Pengusaha Pabrik Hujan, bahwa peristiwa hujan itu tidak
ada sangkutnya dan pautnya dengan banyak atau sedikitnya rejeki
seseorang. Mestinya tidak perlu ada salah paham. Bukan maksud Sang
Pembuat Hujan untuk membatasi rejeki seseorang dengan menghujaninya,
karena hujan itu sendiri adalah rejeki.
Saya seperti diingatkan, bahwa di balik setiap threats (ancaman)
pasti ada opportunities (peluang). Kalau hujan itu dianggap sebagai
ancaman atau penghalang, maka hendaknya jangan hujannya yang
digrundeli (dikeluhkan) atau dipisuh-pisuhi (dimaki-maki), melainkan
peluangnya yang mesti dicari dan didayagunakan. Dan, pemilik "Madurejo
Swalayan" ini termasuk orang yang percaya bahwa peluang itu tidak
akan pernah habis dicari dan tidak akan pernah selesai digarap.
Bagaimana menyulap agar turunnya hujan dapat menjadi berkah bagi
siapa saja, termasuk "Madurejo Swalayan".
Dalam bahasa vulgarnya, bagaimana mempengaruhi agar dalam hujan pun
orang tetap mau berbelanja dan bagaimana agar orang-orang yang
kehujanan itu mau masuk toko dan membeli sesuatu. Maka, (seharusnya)
hujan pun membawa berkah.....
Madurejo, Sleman - 14 Pebruari 2006 (Hari Valentine, dimana coklat
laku keras).
Yusuf Iskandar