Saya masih TK waktu itu (1958), tapi bukan anggota DPR, tapi beneran
anak kecil, di kota Serang Jawa Barat.
Suatu siang, saya bermain sendirian di bawah pohon beringin yang besar. Angin kemarau tiba-tiba berhembus sehingga menerbangkan debu
sekaligus daun-daun kering berterbangan di udara.
Tiba-tiba dengkul kanan saya seperti disentuh benda yang dingin. Ketika saya lihat ternyata seekor ular kecil bergelung sambil
melayang. Gaya ular ini seperti kobra bergelung. Cuma matanya nampak jenaka seperti mengajak bermain. Ular ini lebih mirip anak belut,
seperti yang saya temukan di kolam gurame beberapa puluh tahun kemudian, daripada ular yang menakutkan. Saya pikir ini semacam
laba-laba yang terjatuh karena tiupan angin yang waktu itu sangat kencang.
Karena dari kecil saya tidak pernah ditakuti dengan cerita hantu, setan, gendruwo dsb, maka ular kecil yang tadi saya coba raih, tapi hilang.
Pikiran saya mengatakan seorang anak nakal berada diatas pohon mencoba mengganggu saya, tetapi saya tidak melihat seorangpun diatas sana.
Setelah berulangkali ular bergelung ini mematuk dengkul saya (tapi tidak luka), keruan saya mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Cepat-cepat saya tinggalkan tempat tersebut.
Langsung saya laporkan hal tersebut kepada orang tua saya. Tetapi seperti diduga mana ada yang percaya akan cerita bocah TK, ngomong
saja cedal. Ada ular kok terbang, digigit ular [kecil sekali] walau tidak bermimpi kok tidak darah keluar, kok cuma terasa dingin.
Semuanya cerita saya dianggap fantasi anak kecil belaka.
************
Pengalaman lain, tahun 1978, tempatnya di Kotabumi Lampung Utara, sehabis menunaikan salat Ied Fitri, saya bermaksud mencari bensin
karena kami sekeluarga akan bersilaturahmi ke kota Tanjung Karang, yang jaraknya sekitar 85 km, padahal persedian bensin menipis.
Ternyata, pompa bensin di Kotabumi tutup semua, sehingga saya coba mencari ke lokasi agak pinggiran. Dan pencarian ini tidak membuahkan
hasil, semua penjual bensin tutup ikut merayakan hari besar tersebut.
Dalam perjalanan pulang, dipinggir jalan saya lihat dua bocah perempuan 6 tahunan usianya berusaha menyetop kendaraan umum untuk
menuju ke kota.
Karena memang mobil DATSUN waktu itu kosong, saya pinggirkan kendaraan dan saya angkat satu bocah kedalam mobil, bocah satunya diangkat oleh
adik lelaki saya (kami berdua). Bau kulit terbakar matahari, rambut yang kaku karena nggak pakai "clear", dan baju merah tipis dari bahan
kasar masih terasa sampai sekarang.
Baru beberapa meter mobil berjalan saya ingat belum menanyakan tujuan mereka berdua, kami berdua menoleh kebelakang dan "oalah" kedua bocah
tadi sudah raib. Sebuah Bakiak Kayu berwarna merah ditinggalkan dimobil.
Saya juga belum percaya kejadian itu adalah mahluk halus karena saya ingin berbuat baik kepada dua anak yang terjemur matahari siang
mengapa mesti dicelakai. Waktu saat itu menunjukkan sekitar pukul 9:30 pagi.
Berdua adik saya [waktu itu Mahasiswa], kami menyisir padang alang-alang sekitar TKP, karena tidak ada rumah sekitar sana, ya sudah
kami tinggalkan tempat tersebut dengan perasaan penuh tanda tanya.
Sayangnya karena saya kurang ngeh, kelom tersebut cuma dibuang begitu saja, toh sudah butut dan sebelah lagi, demikian pikiran saya ketika
itu.
Sekedar berbagi pengalaman yang orang lain mungkin menganggap cuma mengada-ada.
Jadi kalau anda kebetulan ke Lampung dan meliwati daerah Pancawati,
selain ada cerita Hanuman, juga menyimpan dua mahluk anak yang misterius. Baeknya nglakson deh. Itung-itung permisi numpang lewat.
Mimbar Bambang Seputro