Tiba-tiba saja saya menjadi suka dengan istilah
banting setir. Dalam bayangan saya, banting setir adalah istilah
gerak refleks seorang sopir guna menghindari situasi mendadak yang
tidak menguntungkan atau membahayakan ketika sedang mengemudi. Oleh
karena itu, pekerjaan banting setir ini sepenuhnya menjadi tanggung
jawab dan urusan sopir, sedangkan penumpang cuma bisa pasrah
bongkokan, nderek selamet.....(numpang selamat). Hasil bantingannya
pun berbau spekulasi, niatnya agar selamat, tapi bisa juga menjadi
fatal.
Ketika istilah banting setir diplesetkan menjadi istilah ganti
pekerjaan atau profesi, urusannya jadi lain. Jelas ini bukan gerak
refleks, melainkan gerak atau manuver sang sopir yang harus
terencana dan diperhitungkan dengan cermat, karena hasil
bantingannya diharapkan menuju ke arah yang lebih baik dan jangan
sampai malah berakibat fatal.
Oleh karena itu, yang saya pahami kemudian adalah jangan sekali-kali
melakukan banting setir atau ganti profesi secara refleks, apalagi
dengan emosional.
Karena pekerjaan ini tidak semata-mata menjadi urusan sang sopir,
masih ada istri dan anak-anak, malah terkadang adik, kakak, ipar,
orang tua, mertua, keponakan, pembantu, anak asuh yang turut menjadi
penumpang. Meski tanggung jawab utama tetap ada di kepala, pundak,
lutut dan kakinya sang sopir.
Melakukan banting setir ini mestinya bukan keputusan yang sembrono.
Karena bisa berarti kita sedang meninggalkan "comfort zone" (zona
nyaman) dalam episode hidup orang gajian menuju ke alam "tak menentu".
Dari kondisi berpenghasilan tetap (apalagi kalau jumlahnya cukup
banyak) menuju ke kondisi berpenghasilan tidak tetap (cenderung
sedikit di awal-awalnya). Namun kabar baiknya adalah bahwa kita
sebenarnya sedang bergerak dari kawasan berpenghasilan terbatas (makanya
disebut kawasan karena ada batasnya) menuju ke alam berpenghasilan
tak terhingga (makanya disebut alam yang tak berbatas).
Miturut teori manajemen perubahan, banting setir ini dapat saya
identikkan dengan langkah putar haluan (turnaround) kalau sopir itu
adalah seorang manager atau CEO sebuah perusahaan. Bedanya, kalau
strategi putar haluan ini karena alasan mendatangkan cashflow,
sedang strategi banting setir karena alasan mendatangkan isi kendil,
dandang, kuali, panci, wajan, agar dapur terus ngebul yang asapnya
semakin tebal dan semakin membubung tinggi.....
Maka ketika pada suatu hari di pegunungan Papua (setelah menjalani
peran politik sebagai massa mengambang cukup lama) situasi dan
kondisi ternyata telah menempatkan saya dalam lajur jalan penuh fait
accompli. Maka banting setir untuk pindah lajur jalan adalah pilihan
terbaik yang harus diambil dari keadaan yang (bisa) lebih buruk.
Pasti ini bukan peristiwa gerak refleks. Saya butuh waktu sembilan
bulan sepuluh hari untuk menimbang-nimbang apakah perlu banting
setir ataukah tidak. Apakah penumpang saya sudah siap untuk
mengikuti gerak manuver sopirnya ataukah belum. Semua terencana dan
terarah, sehingga kalau akhirnya banting setir saya lakukan, maka
peristiwa itu terjadi dengan kesadaran tinggi dan bukan dengan
emosional.
"Ngelmu gaib" diyakinkan. Ndremimil (mengucap berulang-ulang)
permohonan kepada "Atasan" saya dipanjatkan tak terhitung banyaknya,
sampai manik-manik tasbih yang jumlahnya 99 pun tidak mampu
menampungnya. Semoga manuver banting setirnya sang sopir ini akan
mengarah ke lajur jalan yang lebih baik (dalam bahasa buku suci
agama saya disebut : masuk ke satu lajur jalan dengan cara yang
benar dan keluar berpindah lajur pun dengan cara yang benar
pula..... -- QS 17:80 ). Benar menurut saya dan mudah-mudahan benar
pula menurut ijabah "Atasan" saya. Untuk berhasilnya sebuah
manajemen problem solving and decision making dari sebuah proyek,
maka teamwork antara "Atasan" dan bawahan memang mutlak harus baik,
benar, manis dan mesra.
***
Namun sayang tujuh ribu kali sayang, terjadi kesalahan kecil yang
menyertai keputusan saya untuk banting setir. Tidak fatal, cuma
menambah pikiran dan pekerjaan di belakang hari. Ada penumpang saya
yang belum saya persiapkan dengan tuntas, yaitu anak-anak. Penumpang
kecil dalam kendaraan yang saya sopiri. Saya melakukan pendekatan
dan lobi kepada anak-anak dengan cara yang sama terhadap ibunya.
Belakangan saya baru menyadari bahwa ternyata itu saja belum
mencukupi.
Seharusnya perlu pendekatan dan lobi lebih intensif kepada mereka.
Maka akibatnya, meskipun mereka setuju dan mengerti bahwa bapaknya
mau melakukan manuver banting setir, tetapi yang sesungguhnya belum
mereka pahami adalah implikasi dan akibat "non-teknis" bagi
keseharian mereka nantinya. Penjelasan sedalam inilah yang belum
pernah saya lakukan. Tinggal kemudian hari menjadi pekerjaan rumah
bagi bapak dan ibunya untuk menyertai dan memahamkan kepada
anak-anak tentang akan adanya perubahan pola dan kebiasaan hidup
keluarga. Jelas sangat makan waktu dan juga makan hati.
Perubahan kebiasaan hidup sehari-hari dalam keluarga mau tidak mau
terpaksa harus berubah sebagai antisipasi laku boros dan
kehati-hatian. Harus dipahami kalau sebelumnya bapaknya menjadi
pegawai dan menerima gaji tetap setiap bulannya, sehingga kalaupun
bulan ini uang habis maka bulan depan masih akan menerima lagi.
Kemudian berubah menjadi pekerja serabutan yang penghasilan
bulanannya tidak tetap dengan tanpa kepastian apakah bulan depan
masih dapat memperoleh jumlah yang sama. Biasanya ada uang
tertinggal Rp 50.000,- di atas meja tidak ada yang memperdulikan,
kini sisa uang Rp 5.000,- pun diurus kemana perginya. Di mata
anak-anak, kini orang tuanya kok berubah jadi pelit.
Ternyata memang tidak mudah merubah mind-set yang sudah
berurat-berakar sejak mereka lahir jebrol hingga remaja, tiba-tiba
berubah 180 derajat. Mind-set anak-anak dalam menyikapi perubahan
kebiasaan hidup diri dan keluarganya dan mind-set anak-anak dalam
memandang jenis pekerjaan baru dan berbeda yang dilakukan orang
tuanya. Itu baru anak-anak. Tidak kalah pentingnya juga mind-set
ibunya, dari biasa terima setoran tetap setiap bulan dari sang sopir
yang jumlahnya ibarat bisa untuk apa saja, menjadi setoran tidak
tetap yang terkadang malah mesti gantian nyetori alias nombok.
Sedangkan mind-set bapaknya, ya itu tadi, sampai perlu waktu
sembilan bulan sepuluh hari untuk mempersiapkan diri lahir-batin,
jasmani-rohani, moral-spiritual, dunia wal-akhirat.....
Keputusan untuk melakukan banting setir atau berganti profesi sudah
semestinya merupakan sebuah keputusan besar dalam episode kehidupan
manusia. Banting setir adalah merubah mind-set. Sebuah keputusan
yang seharusnya didahului dengan pertimbangan yang cermat dan
terarah karena akan berimplikasi langsung dan membawa perubahan pada
mind-set diri sendiri dan segenap anggota keluarga dalam melanjutkan
perjalanan hidupnya menuju arah yang lebih baik.
Banting Setir Itu Bukan Hanya Urusan Sopir
Kini saya menyadari bahwa keputusan melakukan banting setir alias
berganti profesi adalah sebuah keputusan penting dalam penggalan
hidup seseorang. Banting setir adalah keputusan bermanuver yang
dilakukan oleh seorang sopir beserta segenap penumpang yang ada di
dalam kendaraan yang disopirinya menuju ke arah lajur jalan yang (harus)
lebih baik. Segenap langkah dan jurus mesti benar-benar dipersiapkan
dengan teliti dan komprehensif, jangan sampai ada rambu-rambu jalan
yang tertutupi atau terlewatkan. Dan yang paling sulit adalah
mengantisipasi perubahan mind-set segenap penumpang yang ada dalam
kendaraan, termasuk penumpang-penumpang kecilnya.
Hal yang terakhir itulah yang agaknya kurang memperoleh porsi yang
semestinya saat keputusan banting setir saya lakukan satu setengah
tahun yang lalu. Apa yang kemudian terjadi ketika semua itu kurang
cermat saya persiapkan?
Maka ketika musim libur sekolah tiba, seperti biasa anak kedua saya
memancing pertanyaan : "Pak, kapan kita travelling lagi? Ke Tibet,
yuk pak!".
"What.....?". Ajakan yang tidak tanggung-tanggung setelah melihat
acara di Trans-TV tentang perjalanan ke atap dunia. Bapaknya pun
cuma nyengenges saja sambil memberikan jawaban standar : "Ya, Insya
Allah kalau nanti ada rejeki.....". Saya sadar bahwa ini bukan
jawaban yang memuaskan, tapi saya tidak tahu mesti bagaimana
menjawabnya? Saya harus benar-benar memahami kenapa sampai anak
kedua saya bertanya seperti itu.
Setahun sebelum kami tinggalkan profesi tukang insinyur di
pertambangan kelas dunia di pedalaman Papua, kami sempat mengajak
anak-anak travelling membelah gurun pasir Australia, dari
pantai selatan ke pantai utara. Sebelumnya, negerinya Man-Paman Bush
"sing ngguyang jaran" pun semua daratan negara bagiannya sudah kami
kelilingi sampai blusukan ke pantai, gunung, gurun, hutan, apalagi
belantara kota besarnya. Beberapa kawasan di Eropa dan Timur Tengah
pun kami kunjungi (seorang kawan berkelakar, tinggal Paris - Dakkar
saja yang belum.....). Puji Tuhan, semua terasa begitu mudah
diwujudkan.
Tapi kini, di masa transisi banting setir ini kami semua mesti
menahan diri, menunda keinginan-keinginan yang berbiaya tinggi
termasuk travelling yang sudah menjadi kesukaan kami sekeluarga. (Justru
travelling dan blusukan di negeri sendiri malah jarang dilakukan,
soalnya akan lebih banyak stress-nya daripada refreshing-nya.
Apalagi membaca berita akhir-akhir ini hampir semua infrastruktur
jalan lintas kondisinya ancur-ancuran. Akan makin stress saja
melaluinya.....).
Suatu hari datang seorang sales ke rumah tinggal kami, menawarkan
produk vacum cleaner sambil melakukan demo.
Katanya fitur dan kualitasnya luar biasa sambil tentu saja
memberikan diskon yang sama luar biasanya. Karena kami merasa belum
membutuhkan benar, maka ibunya anak-anak pun menolak dengan halus
penuh basa-basi : "Terima kasih mas, saat ini kami belum
membutuhkannya". Rupanya kejadian itu diamati oleh anak kedua saya,
dan dia pun menyimpulkan dalam hati bahwa ibunya tidak punya cukup
uang untuk membeli vacum cleaner yang harganya ditawarkan sekitar
dua jutaan.
Giliran suatu ketika kami mempersiapkan renstra (istilah para
birokrat untuk menyebut rencana strategi) pengembangan "Madurejo
Swalayan" untuk menambah fasilitas ini-itu dan juga sedikit menambah
fasilitas rumah, lalu rencana itu didengar anak-anak.
Maka sambil cengar-cengir dengan entengnya anak kedua saya nyeletuk
: "Terlalu banyak ide.....! Beli vacum cleaner saja enggak bisa.....".
Pasti ini celetukan guyonan, tapi di balik itu tersirat sindiran
yang menyesakkan dada.
Banyak kejadian-kejadian dalam keseharian yang nada suaranya kalau
diterjemahkan merupakan sebuah nada protes. Terutama yang datang
dari anak kedua saya yang saat ini duduk di kelas 6 SD (terkadang
saya paksakan tersenyum sendiri, masih lebih baik protes dengan
ungkapan-ungkapan polos dan jujur seperti ini, meski
kedengaran menghunjam tajam ke ulu hati, daripada ikut-ikutan
menjahit mulut.....). Itu hanyalah sebagian kecil saja dari
peristiwa keseharian bernuansa demo tanpa pamflet, tanpa corong
halo-halo dan tanpa agenda timpuk-menimpuk.
***
Penggalan-penggalan fragmen kejadian keseharian itu sengaja saya
ceritakan, karena saya ingin menggambarkan bahwa betapa seringkali
kita ini memandang remeh terhadap anak-anak kita. Mereka adalah juga
stakeholders yang arus dijaga keselamatannya di dalam kendaraan yang
kita sopiri. Dikiranya kalau mereka sudah senyam-senyum dan tertawa,
kebutuhannya terpenuhi, sudah nurut sama orang tuanya disuruh
ini-itu, maka urusan sudah selesai. Justru sebaliknya, hal-hal
remeh-temeh yang sering kita abaikan ternyata malah tertanam kuat
dalam pikiran mereka dan tidak mudah untuk memanipulasinya. Hingga
di lain waktu kita pun mak plenggong, tercengang dibuatnya.
Hanya sekedar ilustrasi, terlalu banyak contoh dalam praktek
kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan politik praktis, kita suka
berlagak bak seorang penguasa, lalu menganggap sepele keberadaan
stakeholders yang kelihatannya senyam-senyum dan manggut-manggut.
Padahal di baliknya tersimpan sederet permasalahan layaknya bom
waktu yang tinggal menunggu pemicu.
Sampai pada suatu saat ketika bom itu akhirnya benar-benar meledak,
kita pun kalang kabut dibuatnya.
Dalam ilmu manajemen proyek, sang pimpro (Project Manager) gagal
mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh stakeholders proyeknya,
atau sebenarnya tahu permasalahannya tetapi gagal menempatkannya
dalam prioritas problem solving and decision making. Ing wayah
semono....., pada waktu itu, barangkali memang para stakeholders itu
senyam-senyum dan oka-oke saja karena segenap kepentingannya tidak (atau
belum) terganggu, fasilitas hidupnya terpenuhi dan tampaknya
aman-aman saja menurut petunjuk sang bapak pimpro (kata Titik Puspa
: ke gunung engkau ikut, ke gurun engkau turut.....). Tapi ketika
jaman berganti dan permasalahan yang terpendam itu kemudian meledak
karena ketemu pemantik, tinggal sang pimpro dan rombongan
shareholders-nya kebakaran jenggot.
Kiranya tidak perlu menyebut contoh, terlalu banyak kendaraan besar
yang belakangan hari mengalami kejadian semacam ini. Kisah tentang
sopir-sopir besar yang mengabaikan penumpang-penumpang kecilnya. Dan
sepertinya kok tipikal di negara berkembang. Termasuk kemudian
solusinya yang cenderung tambal sulam kalau ada bannya yang bocor,
gali lubang tutup lubang kalau ada jendelanya yang bolong. Ah, saya
kok jadi ngerasani pihak lain.....
Maafkanlah daku, lha kalau memang kenyataannya demikian......
***
Mengubah mind-set anak-anak ternyata jauh lebih sulit dan tak
terduga dibanding dengan ibunya atau bahkan diri kita sendiri.
Anak-anak adalah juga penumpang kendaraan kita yang perlu diajak
bicara dari hati ke hati sebelum sang sopir melakukan manuver
banting setir. Ibarat sopir itu adalah seorang Project Manager, maka
segenap penumpang kecilnya adalah juga stakeholders yang tidak boleh
dianggap kecil.
Seharusnya dulu saya tidak menganggap sepele soal ini.
Seharusnya dulu saya melakukan marketing yang lebih terbuka dan
jujur terhadap produk yang saya jual kepada anak-anak saya.
Seharusnya dulu lebih banyak waktu saya pergunakan untuk melakukan
pendekatan dan lobi lebih intensif kepada penumpang-penumpang kecil
dari kendaraan yang saya sopiri. Seharusnya dulu.....
Ya, seharusnya.....
Yakinlah saya sekarang, meski terlambat, bahwa keputusan untuk
melakukan banting setir itu bukan hanya urusan sopir, melainkan juga
kernetnya dan jauh lebih penting penumpang-penumpang kecilnya.
Banting setir sendiri bukan keputusan yang salah apalagi langkah
bodoh, malah seharusnya menjadi langkah luar biasa menuju the real
life. Akan tetapi saya menjadi sangat egois dan tidak
bertanggungjawab kalau menganggap bahwa urusan banting setir adalah
urusan sopir semata.....
Madurejo, Sleman - 28 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar
http://gajahsora.com