Banting Setir Adalah Merubah Mind-Set
 
Jamu Keladi Tikus -pengerat kanker, hubungi iboe Erni di HP 0812 802 5102 atau (021) 5601215

Tiba-tiba saja saya menjadi suka dengan istilah banting setir. Dalam bayangan saya, banting setir adalah istilah gerak refleks seorang sopir guna menghindari situasi mendadak yang tidak menguntungkan atau membahayakan ketika sedang mengemudi. Oleh karena itu, pekerjaan banting setir ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab dan urusan sopir, sedangkan penumpang cuma bisa pasrah bongkokan, nderek selamet.....(numpang selamat). Hasil bantingannya pun berbau spekulasi, niatnya agar selamat, tapi bisa juga menjadi fatal.

Ketika istilah banting setir diplesetkan menjadi istilah ganti pekerjaan atau profesi, urusannya jadi lain. Jelas ini bukan gerak refleks, melainkan gerak atau manuver sang sopir yang harus terencana dan diperhitungkan dengan cermat, karena hasil bantingannya diharapkan menuju ke arah yang lebih baik dan jangan sampai malah berakibat fatal.

Oleh karena itu, yang saya pahami kemudian adalah jangan sekali-kali melakukan banting setir atau ganti profesi secara refleks, apalagi dengan emosional.
Karena pekerjaan ini tidak semata-mata menjadi urusan sang sopir, masih ada istri dan anak-anak, malah terkadang adik, kakak, ipar, orang tua, mertua, keponakan, pembantu, anak asuh yang turut menjadi penumpang. Meski tanggung jawab utama tetap ada di kepala, pundak, lutut dan kakinya sang sopir.

Melakukan banting setir ini mestinya bukan keputusan yang sembrono. Karena bisa berarti kita sedang meninggalkan "comfort zone" (zona nyaman) dalam episode hidup orang gajian menuju ke alam "tak menentu". Dari kondisi berpenghasilan tetap (apalagi kalau jumlahnya cukup banyak) menuju ke kondisi berpenghasilan tidak tetap (cenderung sedikit di awal-awalnya). Namun kabar baiknya adalah bahwa kita sebenarnya sedang bergerak dari kawasan berpenghasilan terbatas (makanya disebut kawasan karena ada batasnya) menuju ke alam berpenghasilan tak terhingga (makanya disebut alam yang tak berbatas).

Miturut teori manajemen perubahan, banting setir ini dapat saya identikkan dengan langkah putar haluan (turnaround) kalau sopir itu adalah seorang manager atau CEO sebuah perusahaan. Bedanya, kalau strategi putar haluan ini karena alasan mendatangkan cashflow, sedang strategi banting setir karena alasan mendatangkan isi kendil, dandang, kuali, panci, wajan, agar dapur terus ngebul yang asapnya semakin tebal dan semakin membubung tinggi.....

Maka ketika pada suatu hari di pegunungan Papua (setelah menjalani peran politik sebagai massa mengambang cukup lama) situasi dan kondisi ternyata telah menempatkan saya dalam lajur jalan penuh fait accompli. Maka banting setir untuk pindah lajur jalan adalah pilihan terbaik yang harus diambil dari keadaan yang (bisa) lebih buruk.

Pasti ini bukan peristiwa gerak refleks. Saya butuh waktu sembilan bulan sepuluh hari untuk menimbang-nimbang apakah perlu banting setir ataukah tidak. Apakah penumpang saya sudah siap untuk mengikuti gerak manuver sopirnya ataukah belum. Semua terencana dan terarah, sehingga kalau akhirnya banting setir saya lakukan, maka peristiwa itu terjadi dengan kesadaran tinggi dan bukan dengan emosional.

"Ngelmu gaib" diyakinkan. Ndremimil (mengucap berulang-ulang) permohonan kepada "Atasan" saya dipanjatkan tak terhitung banyaknya, sampai manik-manik tasbih yang jumlahnya 99 pun tidak mampu menampungnya. Semoga manuver banting setirnya sang sopir ini akan mengarah ke lajur jalan yang lebih baik (dalam bahasa buku suci agama saya disebut : masuk ke satu lajur jalan dengan cara yang benar dan keluar berpindah lajur pun dengan cara yang benar pula..... -- QS 17:80 ). Benar menurut saya dan mudah-mudahan benar pula menurut ijabah "Atasan" saya. Untuk berhasilnya sebuah manajemen problem solving and decision making dari sebuah proyek, maka teamwork antara "Atasan" dan bawahan memang mutlak harus baik, benar, manis dan mesra.

***

Namun sayang tujuh ribu kali sayang, terjadi kesalahan kecil yang menyertai keputusan saya untuk banting setir. Tidak fatal, cuma menambah pikiran dan pekerjaan di belakang hari. Ada penumpang saya yang belum saya persiapkan dengan tuntas, yaitu anak-anak. Penumpang kecil dalam kendaraan yang saya sopiri. Saya melakukan pendekatan dan lobi kepada anak-anak dengan cara yang sama terhadap ibunya. Belakangan saya baru menyadari bahwa ternyata itu saja belum mencukupi.
Seharusnya perlu pendekatan dan lobi lebih intensif kepada mereka.

Maka akibatnya, meskipun mereka setuju dan mengerti bahwa bapaknya mau melakukan manuver banting setir, tetapi yang sesungguhnya belum mereka pahami adalah implikasi dan akibat "non-teknis" bagi keseharian mereka nantinya. Penjelasan sedalam inilah yang belum pernah saya lakukan. Tinggal kemudian hari menjadi pekerjaan rumah bagi bapak dan ibunya untuk menyertai dan memahamkan kepada anak-anak tentang akan adanya perubahan pola dan kebiasaan hidup keluarga. Jelas sangat makan waktu dan juga makan hati.

Perubahan kebiasaan hidup sehari-hari dalam keluarga mau tidak mau terpaksa harus berubah sebagai antisipasi laku boros dan kehati-hatian. Harus dipahami kalau sebelumnya bapaknya menjadi pegawai dan menerima gaji tetap setiap bulannya, sehingga kalaupun bulan ini uang habis maka bulan depan masih akan menerima lagi. Kemudian berubah menjadi pekerja serabutan yang penghasilan bulanannya tidak tetap dengan tanpa kepastian apakah bulan depan masih dapat memperoleh jumlah yang sama. Biasanya ada uang tertinggal Rp 50.000,- di atas meja tidak ada yang memperdulikan, kini sisa uang Rp 5.000,- pun diurus kemana perginya. Di mata anak-anak, kini orang tuanya kok berubah jadi pelit.

Ternyata memang tidak mudah merubah mind-set yang sudah berurat-berakar sejak mereka lahir jebrol hingga remaja, tiba-tiba berubah 180 derajat. Mind-set anak-anak dalam menyikapi perubahan kebiasaan hidup diri dan keluarganya dan mind-set anak-anak dalam memandang jenis pekerjaan baru dan berbeda yang dilakukan orang tuanya. Itu baru anak-anak. Tidak kalah pentingnya juga mind-set ibunya, dari biasa terima setoran tetap setiap bulan dari sang sopir yang jumlahnya ibarat bisa untuk apa saja, menjadi setoran tidak tetap yang terkadang malah mesti gantian nyetori alias nombok. Sedangkan mind-set bapaknya, ya itu tadi, sampai perlu waktu sembilan bulan sepuluh hari untuk mempersiapkan diri lahir-batin, jasmani-rohani, moral-spiritual, dunia wal-akhirat.....

Keputusan untuk melakukan banting setir atau berganti profesi sudah semestinya merupakan sebuah keputusan besar dalam episode kehidupan manusia. Banting setir adalah merubah mind-set. Sebuah keputusan yang seharusnya didahului dengan pertimbangan yang cermat dan terarah karena akan berimplikasi langsung dan membawa perubahan pada mind-set diri sendiri dan segenap anggota keluarga dalam melanjutkan perjalanan hidupnya menuju arah yang lebih baik.
 

Banting Setir Itu Bukan Hanya Urusan Sopir

Kini saya menyadari bahwa keputusan melakukan banting setir alias berganti profesi adalah sebuah keputusan penting dalam penggalan hidup seseorang. Banting setir adalah keputusan bermanuver yang dilakukan oleh seorang sopir beserta segenap penumpang yang ada di dalam kendaraan yang disopirinya menuju ke arah lajur jalan yang (harus) lebih baik. Segenap langkah dan jurus mesti benar-benar dipersiapkan dengan teliti dan komprehensif, jangan sampai ada rambu-rambu jalan yang tertutupi atau terlewatkan. Dan yang paling sulit adalah mengantisipasi perubahan mind-set segenap penumpang yang ada dalam kendaraan, termasuk penumpang-penumpang kecilnya.

Hal yang terakhir itulah yang agaknya kurang memperoleh porsi yang semestinya saat keputusan banting setir saya lakukan satu setengah tahun yang lalu. Apa yang kemudian terjadi ketika semua itu kurang cermat saya persiapkan?

Maka ketika musim libur sekolah tiba, seperti biasa anak kedua saya memancing pertanyaan : "Pak, kapan kita travelling lagi? Ke Tibet, yuk pak!".
"What.....?". Ajakan yang tidak tanggung-tanggung setelah melihat acara di Trans-TV tentang perjalanan ke atap dunia. Bapaknya pun cuma nyengenges saja sambil memberikan jawaban standar : "Ya, Insya Allah kalau nanti ada rejeki.....". Saya sadar bahwa ini bukan jawaban yang memuaskan, tapi saya tidak tahu mesti bagaimana menjawabnya? Saya harus benar-benar memahami kenapa sampai anak kedua saya bertanya seperti itu.

Setahun sebelum kami tinggalkan profesi tukang insinyur di pertambangan kelas dunia di pedalaman Papua, kami sempat mengajak anak-anak travelling  membelah gurun pasir Australia, dari pantai selatan ke pantai utara. Sebelumnya, negerinya Man-Paman Bush "sing ngguyang jaran" pun semua daratan negara bagiannya sudah kami kelilingi sampai blusukan ke pantai, gunung, gurun, hutan, apalagi belantara kota besarnya. Beberapa kawasan di Eropa dan Timur Tengah pun kami kunjungi (seorang kawan berkelakar, tinggal Paris - Dakkar saja yang belum.....). Puji Tuhan, semua terasa begitu mudah diwujudkan.

Tapi kini, di masa transisi banting setir ini kami semua mesti menahan diri, menunda keinginan-keinginan yang berbiaya tinggi termasuk travelling yang sudah menjadi kesukaan kami sekeluarga. (Justru travelling dan blusukan di negeri sendiri malah jarang dilakukan, soalnya akan lebih banyak stress-nya daripada refreshing-nya. Apalagi membaca berita akhir-akhir ini hampir semua infrastruktur jalan lintas kondisinya ancur-ancuran. Akan makin stress saja melaluinya.....).

Suatu hari datang seorang sales ke rumah tinggal kami, menawarkan produk vacum cleaner sambil melakukan demo.
Katanya fitur dan kualitasnya luar biasa sambil tentu saja memberikan diskon yang sama luar biasanya. Karena kami merasa belum membutuhkan benar, maka ibunya anak-anak pun menolak dengan halus penuh basa-basi : "Terima kasih mas, saat ini kami belum membutuhkannya". Rupanya kejadian itu diamati oleh anak kedua saya, dan dia pun menyimpulkan dalam hati bahwa ibunya tidak punya cukup uang untuk membeli vacum cleaner yang harganya ditawarkan sekitar dua jutaan.

Giliran suatu ketika kami mempersiapkan renstra (istilah para birokrat untuk menyebut rencana strategi) pengembangan "Madurejo Swalayan" untuk menambah fasilitas ini-itu dan juga sedikit menambah fasilitas rumah, lalu rencana itu didengar anak-anak.
Maka sambil cengar-cengir dengan entengnya anak kedua saya nyeletuk : "Terlalu banyak ide.....! Beli vacum cleaner saja enggak bisa.....". Pasti ini celetukan guyonan, tapi di balik itu tersirat sindiran yang menyesakkan dada.

Banyak kejadian-kejadian dalam keseharian yang nada suaranya kalau diterjemahkan merupakan sebuah nada protes. Terutama yang datang dari anak kedua saya yang saat ini duduk di kelas 6 SD (terkadang saya paksakan tersenyum sendiri, masih lebih baik protes dengan ungkapan-ungkapan polos dan jujur seperti ini, meski  kedengaran menghunjam tajam ke ulu hati, daripada ikut-ikutan menjahit mulut.....). Itu hanyalah sebagian kecil saja dari peristiwa keseharian bernuansa demo tanpa pamflet, tanpa corong halo-halo dan tanpa agenda timpuk-menimpuk.

***

Penggalan-penggalan fragmen kejadian keseharian itu sengaja saya ceritakan, karena saya ingin menggambarkan bahwa betapa seringkali kita ini memandang remeh terhadap anak-anak kita. Mereka adalah juga stakeholders yang arus dijaga keselamatannya di dalam kendaraan yang kita sopiri. Dikiranya kalau mereka sudah senyam-senyum dan tertawa, kebutuhannya terpenuhi, sudah nurut sama orang tuanya disuruh ini-itu, maka urusan sudah selesai. Justru sebaliknya, hal-hal remeh-temeh yang sering kita abaikan ternyata malah tertanam kuat dalam pikiran mereka dan tidak mudah untuk memanipulasinya. Hingga di lain waktu kita pun mak plenggong, tercengang dibuatnya.

Hanya sekedar ilustrasi, terlalu banyak contoh dalam praktek kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan politik praktis, kita suka berlagak bak seorang penguasa, lalu menganggap sepele keberadaan stakeholders yang kelihatannya senyam-senyum dan manggut-manggut. Padahal di baliknya tersimpan sederet permasalahan layaknya bom waktu yang tinggal menunggu pemicu.
Sampai pada suatu saat ketika bom itu akhirnya benar-benar meledak, kita pun kalang kabut dibuatnya.

Dalam ilmu manajemen proyek, sang pimpro (Project Manager) gagal mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh stakeholders proyeknya, atau sebenarnya tahu permasalahannya tetapi gagal menempatkannya dalam prioritas problem solving and decision making. Ing wayah semono....., pada waktu itu, barangkali memang para stakeholders itu senyam-senyum dan oka-oke saja karena segenap kepentingannya tidak (atau belum) terganggu, fasilitas hidupnya terpenuhi dan tampaknya aman-aman saja menurut petunjuk sang bapak pimpro (kata Titik Puspa : ke gunung engkau ikut, ke gurun engkau turut.....). Tapi ketika jaman berganti dan permasalahan yang terpendam itu kemudian meledak karena ketemu pemantik, tinggal sang pimpro dan rombongan shareholders-nya kebakaran jenggot.

Kiranya tidak perlu menyebut contoh, terlalu banyak kendaraan besar yang belakangan hari mengalami kejadian semacam ini. Kisah tentang sopir-sopir besar yang mengabaikan penumpang-penumpang kecilnya. Dan sepertinya kok tipikal di negara berkembang. Termasuk kemudian solusinya yang cenderung tambal sulam kalau ada bannya yang bocor, gali lubang tutup lubang kalau ada jendelanya yang bolong. Ah, saya kok jadi ngerasani pihak lain.....
Maafkanlah daku, lha kalau memang kenyataannya demikian......

***

Mengubah mind-set anak-anak ternyata jauh lebih sulit dan tak terduga dibanding dengan ibunya atau bahkan diri kita sendiri. Anak-anak adalah juga penumpang kendaraan kita yang perlu diajak bicara dari hati ke hati sebelum sang sopir melakukan manuver banting setir. Ibarat sopir itu adalah seorang Project Manager, maka segenap penumpang kecilnya adalah juga stakeholders yang tidak boleh dianggap kecil.

Seharusnya dulu saya tidak menganggap sepele soal ini.
Seharusnya dulu saya melakukan marketing yang lebih terbuka dan jujur terhadap produk yang saya jual kepada anak-anak saya. Seharusnya dulu lebih banyak waktu saya pergunakan untuk melakukan pendekatan dan lobi lebih intensif kepada penumpang-penumpang kecil dari kendaraan yang saya sopiri. Seharusnya dulu.....
Ya, seharusnya.....

Yakinlah saya sekarang, meski terlambat, bahwa keputusan untuk melakukan banting setir itu bukan hanya urusan sopir, melainkan juga kernetnya dan jauh lebih penting penumpang-penumpang kecilnya. Banting setir sendiri bukan keputusan yang salah apalagi langkah bodoh, malah seharusnya menjadi langkah luar biasa menuju the real life. Akan tetapi saya menjadi sangat egois dan tidak bertanggungjawab kalau menganggap bahwa urusan banting setir adalah urusan sopir semata.....


Madurejo, Sleman - 28 Pebruari 2006
Yusuf Iskandar
http://gajahsora.com