Pribumi dilarang banyak makan
ARTIKEL DI Majalah Bulanan INTISARI bulan Desember 1999 Halaman 183

Pribumi dilarang banyak makan

Dipenghujung tahun 1990-an, saya bertugas pada sebuah proyek pengeboran minyak dan gas bumi di Kutubu, Papua Nugini. Kesan saya pertama kali adalah, banyaknya orang Australia yang bekerja disana dari koki sampai manager.

Kebetulan pasangan kerja saya aseli Papua Nugini. Rekan ini bahasa fasih berbahasa Inggris, maklum diuniversitasnya bahasa Inggris dipakai sebagai bahasa pengantar. Anehnya setiap berhadapan dengan orang kulit putih, ia selalu mengambil jarak, atau paling-paling hanya
tersenyum.

Belakangan ia meminta saya saja yang mengambil laporan-laporan buatan bule-bule Australia. Rupanya setiap kali memasuki, ruang kerja mereka, ia sering menerima perlakuan yang kurang bersahabat.

Suatu saat karena masih banyaknya pekerjaan, kami berdua tertinggal kendaraan jemputan. Celakanya, kami harus menunggu 12 jam lagi untuk ikut jemputan berikutnya. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan berjalan kaki menembus hutan rimbun, yang akan makan waktu satu jam.

Bagi rekan saya yang kelahirannya Papua Nuginio, berjalan kaki diantara semak belukar bukan masalah, namun buat saya yang tidak terbiasa, sungguh merupakan siksaan berat. Belum lagi sepatu kerja yang makin lama-makin terasa berat.

Akhirnya kami saya putuskan untuk mencari tumpangan. Anehnya ketika teman saya mencoba untuk menghentikan mobil, beberapa bule cuma menghentikan kendaraannya sejenak untuk kemudian tancap gas lagi setelah tertawa mengejek.

Siasatpun kami ganti.

Kini saya yang menghentikan kendaraan, sementara teman saya berdiri di kejauhan. Ternyata berhasil!. Dengan ramah, saya diajak naik keke sebuah pikup terbuka. Tentu saja pihak pembawa kendaraan kecewa berat begitu melihat teman saya melompat kekendaraan mereka.

Perlakuan kurang simpatik terhadap pribumi Papua Nugini juga terjadi di ruang makan proyek. Disana terpampang: "Pribumi, harap jangan makan banyak-banyak. Diminta petugas catering harap membatasi jumlah makan yang diambil orang lokal".

Dari kejadian diatas, apakah Australia masih boleh disebut sebagai pendekar kemanusiaan ?. Tindakan yang mereka lakukan itu jelas tidak manusiawi, lebih-lebih bila itu dilakukan di negeri berdaulat seperti Papua Nugini.