Dipenghujung tahun 1990-an, saya bertugas pada
sebuah proyek pengeboran minyak dan gas bumi di Kutubu, Papua Nugini.
Kesan saya pertama kali adalah, banyaknya orang Australia yang bekerja
disana dari koki sampai manager.
Kebetulan pasangan kerja saya aseli Papua Nugini.
Rekan ini bahasa fasih berbahasa Inggris, maklum diuniversitasnya
bahasa Inggris dipakai sebagai bahasa pengantar. Anehnya setiap
berhadapan dengan orang kulit putih, ia selalu mengambil jarak, atau
paling-paling hanya
tersenyum.
Belakangan ia meminta saya saja yang mengambil
laporan-laporan buatan bule-bule Australia. Rupanya setiap kali
memasuki, ruang kerja mereka, ia sering menerima perlakuan yang kurang
bersahabat.
Suatu saat karena masih banyaknya pekerjaan, kami
berdua tertinggal kendaraan jemputan. Celakanya, kami harus menunggu
12 jam lagi untuk ikut jemputan berikutnya. Akhirnya, kami memutuskan
untuk kembali ke penginapan berjalan kaki menembus hutan rimbun, yang
akan makan waktu satu jam.
Bagi rekan saya yang kelahirannya Papua Nuginio,
berjalan kaki diantara semak belukar bukan masalah, namun buat saya
yang tidak terbiasa, sungguh merupakan siksaan berat. Belum lagi
sepatu kerja yang makin lama-makin terasa berat.
Akhirnya kami saya putuskan untuk mencari tumpangan.
Anehnya ketika teman saya mencoba untuk menghentikan mobil, beberapa
bule cuma menghentikan kendaraannya sejenak untuk kemudian tancap gas
lagi setelah tertawa mengejek.
Siasatpun kami ganti.
Kini saya yang menghentikan kendaraan, sementara
teman saya berdiri di kejauhan. Ternyata berhasil!. Dengan ramah, saya
diajak naik keke sebuah pikup terbuka. Tentu saja pihak pembawa
kendaraan kecewa berat begitu melihat teman saya melompat kekendaraan
mereka.
Perlakuan kurang simpatik terhadap pribumi Papua
Nugini juga terjadi di ruang makan proyek. Disana terpampang:
"Pribumi, harap jangan makan banyak-banyak. Diminta petugas
catering harap membatasi jumlah makan yang diambil orang lokal".
Dari kejadian diatas, apakah Australia masih boleh
disebut sebagai pendekar kemanusiaan ?. Tindakan yang mereka lakukan
itu jelas tidak manusiawi, lebih-lebih bila itu dilakukan di negeri
berdaulat seperti Papua Nugini.