Teh
yang paling terkenal dan terpatri didalam sanubari saya adalah Teh GOALPARA
dari Sukabumi. Bukan rasanya, atau wanginya. Tapi pengalamannya dibalik teh
tersebut.
Ketika itu saya masih kelas 1 SD, sayup-sayup masih ingat, bapak ikut
pendidikan SPN (Sekolah Polisi Negara) di Sukabumi untuk menjadi Ajun
Inspektur Polisi.
Kami sendiri kost pada sebuah rumah sederhana milik seorang janda yang mewarisi
kekayaan dari suaminya orang Belanda. Karena
Sukabumi dalah daerah perkebunan dengan hawa yang sejuk, maka banyak orang
Belanda dan keturunannya yang menetap disana.
Saya
tahunya kalau orang Belanda tidur siang pakai piyama atau KamerJaas.
Rasa-rasanya di kawasan Sukabumi banyak Belanda hitam, seperti teman saya
main Sonya (seumuran aku) yang rambutnya keriting merah, atau Oom Janzen
yang sekalipun saya yakin dia orang Indonesia tetapi selalu cas cis cus
berbahasa Belanda.
Dalam komplek itu tinggal Tuan Markobah demikian nama sang Pemilik
Onderneming teh, punya isteri pribumi dan tinggal di kawasan Selabintana-
Sukabumi.
Sekali-kali saya curi dengar gossip antar ibu-ibu polisi: "itu bukan
istri melainkan "nyai".
"Buktinya
nggak pernah jalan bersama", kata ibu gosip sambil mencibirkan bibir.
Tapi jaman dulu mana aku "ngeh". Lagian kalau saya tanya "Bu
Nyai kok beda dengan isteri kenapa?", jawabnya karena "Nyai tidak
di kawin".
"Lho
kok punya anak?," sergah
saya. Mungkin kalau saya sudah besar pasti ngeyel, "enakan mana diajak
jalan bersama namun tidak tidur bersama."
"Wis
To, bocah cilik jangan banyak tanya."
Meneer
Belanda ini mempunyai anak Micki (tertua) dan Jessi, dua-duanya lelaki.
Jessy, kalau mau tidur malam biasanya mengajak saya nginep dirumahnya.
Celakanya, ketika Jessi dikeloni ibunya yang orang Indonesia, saya dikeloni
anjing gembala betinanya yang namanya WANDA. Tubuh dan baunya anjing sampai
sekarang masih bisa saya kenang. Wanda anjing cerdas, saya bisa melempar
bola dan ia akan menangkap dengan mulutnya lalu dibawa kepada saya. Kalau
hari terang, Wanda patuh disuruh jaga di luar kamar, tetapi kalau sudah
datang hujan dan petir, ia seperti ketakutan, tubuhnya menggigil dan sia-sia
mengusirnya keluar kamar. Akhirnya karena kasian, Wanda diperbolehkan tidur
dilantai dengan saya. Sial bener.
Pengorbanan saya tidur dengan anjing ini biasanya diimbali dengan ijin untuk
memancing ikan Mujaer, Lele atau Gabus yang banyak terdapat di kolam milik
mereka. Tapi karena di kolam juga terdapat ikan Gurami yang berukuran
sekitar 3 jari atau sebesar kaset maka berlaku aturan, Gurami yang
tertangkap harus dikembalikan ke kolam. Cuma si Micki rada sok tahu. Dia
tidak bisa membedakan Gurami dengan Mujair yang kalau memang baru berukuran
sebesar kaset sulit dibedakan. Kadang-kadang mujair tangkapan saya di
lepaskannya kembali ke kolam karena menurutnya itu gurami. Dan susahnya ia
jauh lebih besar daripada saya tubuhnya. Indo lagi.
Pada hari minggu, ketika liburan, saya diajak keluarga Markobah berlibur di
Villa Perkebunan Teh Goalpara. Bukan main gembiranya hati ini bisa diajak ke
Villa milik tuan onderneming.
Orang
kampung seperti saya melihat Villa, ya bukan main kagum-kagumnya. Villa
orang Belanda lengkap dengan KoelKast dan alat listrik lainnya.
Di
Villa itu ada meja setrika, bentuknya lebih langsing daripada meja setrika
di rumah. Didinding dekat meja setrika saya lihat ada kotak kecil dengan dua
buah lubang. Lubang ini yang menarik perhatian saya. Lalu saya coba
mengintipnya ke dalam.
Tetapi lantaran lubang buntu saya mencari sebatang paku, lalu saya tusukkan.
Telinga saya mendenging dan tangan menjadi kaku kesemutan. Saya was-was
jangan jangan mahluk penunggu lubang itu marah kepada saya.
Oh, penjaga Villa keluar sambil melihat kesana-kemari, dia menuju suatu
kotak, lalu kotak itu disentuhnya dan tanpa berkata apa-apa, kembali
meneruskan pekerjaan mengurus tanaman.
Setelah penjaga Vila pergi timbul rasa ingin tahu, sebetulnya mahluk
penunggu lubang kecil tadi seperti apa bentuknya. Saya ulangi menusuk lubang
tadi dengan paku yang sama.
Dalam percobaan kedua inilah saya berkenalan dengan rasa tersambar aliran
listrik. Lubang kecil itu adalah stop kontak untuk menancapkan pasokan
listrik bagi setrika, yang memang di rumah saya masih menggunakan arang
kayu.
Yang masih saya pikirkan,
dulu, alat listrik diberi pengaman sehingga ketika menyentuh tubuh
seseorang, langsung sekering akan memutuskan sambungan listrik sehingga
tidak membahayakan orang yang terkena, paling merepotkan pak Bon penjaga
villa yang harus menaikkan sekring yang jatuh.
Sampai
sekarang kalau melihat bungkus Teh Goalpara yang berwarna oranye dengan
gambar gunung, saya selalu ingat rasanya berkenalan dengan setrum.
[mimbar seputro]