|
|
|
BHISMA
WAKTU KECIL NAMANYA DEWABRATA ANAK GANGGA.
Raja Sentanu dari bangsa Kurus (Kurawa)- Nama negeri Hastinapura
pada suatu pergi berburu ke hutan. Ketika sedang beristirahat
ditepi sungai Gangga, ia diganggu oleh peri cantik bernama Gangga.
Kalau orang biasa pasti girap-girap kesurupan, tapi Sentanu
malah girang-girang
kasmaran. Apalagi peri cuma "manjing" kesalah satu
tubuh wanita molek.
Jadi cuma softwarenya aja yang "Gangga-edisi Millenium".
Body masih full press, bayangkan kalau Gangga - udah jutaan tahun
kan usianya.
Kocap carito, raja tertambat hatinya. Gilanya lagi, bukan
seicip dua icip buat iseng sebagaimana layaknya raja, sang
peri malah mau dikawininya. Lebih sableng, persyaratannya
simple selalu mengatakan "Yes I do", apapun yang
dikerjakan istrinya nanti. Kalau ada pasien (RSKO= Rumah Sakit
Ketergantungan Obat), yang sekarang jadilah raja kita ini pasien
RSKI (Rumah Sakit Ketergantungan Isteri).
TUJUH ANAK DIBANTAI IBU SENDIRI
Dasar jin, setiap kali melahirkan anak, selalu diblebekan
kedalam sungai Gangga, sampai basah kuyup, dan sampai tewas.
Kalau satu sih masih ditega-tegain, tapi sampai anak yang ke
delapan, Sentanu tidak tahan lagi, dia bilang STOP-STOP, memang
Munir tidak ada disini, tapi,
please, jangan, jangan kau bunuh lagi anakmu. Sungguh teganya-teganya
dirimu teganya. Ooooh. Pada anakmu.
"Ah rajaku, kau melanggar janji, anak ini, Dewabrata
(lho kok bukan Bhisma, tunggu penjelasan selanjutnya), akan
kubawa ke kayangan. Tahukah kamu, anak yang kuceburkan kesungai
selama ini, sesungguhnya dewa yang dikutuk (VASU) jadi berumur
pendek. Ibarat baju, itu reject punya, musti dikembalikan lagi
ke kayangan supaya bisa immortal, hidup abadi. Biarlah yang
reject CPO ex Medan saja. Sayang kau menghentikan tindakanku,
maka terpaksa anak ini menjalani kutukan menjadi mortal (bisa
mati)."
Maka terbanglah Gangga (lho terbang atau nylulup ke Sungai
Gangga, sambil membawa bayi bernama Dewabrata. Tapi sebelum
nylulup Gangga berjanji akan mengembalikan bayi setelah
18 tahun kemudian. Gangga ternyata memberikan janji, juga
bukti, 18 tahun kemudian Dewabrata kembali ke bumi tanpa harus
makan Kuldi.
SENTANU MULAI KESEPIAN
Sementara itu sang Duda Sentanu mulai kesepian, foto, kartu
nama, ikut biro jodoh sudah dilakukan tapi peminat kok langka
banget yah. Orang jaman dulu yang dilihat cinta melulu,
apa tidak lihat "prospek", maunya yang muda trengginas
melulu. Ibu Dharma Wanita perwayangan ada
juga sih yang membuat proposal buat anak gadisnya, tapi Sentanu
pikir ah Stock Lama.
Mulai Sentanu berhitung ala Kumon, karena tanggal lahirnya
dia tidak tahu, agak sulit menentukan shionya. Dia tahu FengShui-nya
ada di air, maksudnya bukan kalau jualan Aqua dan Limun jadi
maju tapi apa yang berhubungan dengan air bakal hokkie. Jadi
kalau saya berburu lagi dan mengaso ditepi kolam atau danau,
barangkali peruntunganku disana.
Segera diisi formulir permohonan cuti, di cap sendiri, ditandatangani
sendiri. Padahal kalau anak buah yang minta perlop, pasti dingel-ngel.Alasannya
pasar sedang sibuk, tenaga dibutuhkan, kalau bisa cuti ganti
mentahan saja.
Pada hari yang ditentukan, pergilah dia berburu, sekalipun
para pakuwon bilang, wuku kali ini belum pas untuk berburu.
"Itu yang gue cari," katanya dalam hati. Maka amplop
laporan mengenai perbintangan cuma di cap "JBB",
Jangan Bilang Bilang, persis kalau boss kasih amplop bonus
JBB kepada anak buahnya.
Seperti yang diperkiraan, betul saja, binatang buruan dihutan
seakan sirna ditelan bumi. Jangrik saja seolah sembunyi.
Dia berjalan sampai akhirnya melihat danau, ada kerambanya
yang kalau waktunya panen tiba keburu dicolong orang.
"Nyantai dulu ah," katanya sambil umbaran ditepi
danau. Angin sumilir membuat raja yang keletihan tersebut mulai
menguap, tanda mengantuk. Kalau sirik tanda tak mampu.
Hidungnya mula-mula mencium bau teh Tegal, yang komposisi
melatinya dengan daun tehnya sama banyak. Lama-lama yang menang
bau melati, lalu mirip Channel 5, tapi lama-kelamaan seperti
bau Poisson, cuma kadang-kadang seperti bau kembang kantil.
Ini ada parfum sejrigen tumpah po yo, kok baunya bisa keendus
kemana-mana.
Langsung indera penciumannya di tingkatkan dari Siaga III,
Siaga II, Pejaten Timur I, Pejaten Timur II, Jalan Raya
Buncit I, sampai ke jalan SIAGA I (lho kok jadi nyasar),
beruntung dia tidak sakit flu seperti khabar dari dunia lain.
Sudah Siaga, ternyata cuma kena virus flu. Hatta masuklah
ia ke sebuah "hut" tapi karena bukan gubugnya orang
Itali yang pinter bikin Pizza, melainkan gubuk orang India,
jadinya seperti gubuk gawat darurat, sangat darurat sampai kita
teriak gawaaat.
Heran dia menemukan anak perawan secantik dan sewangi itu
di hutan Liwang Liwung, apa juragan Perahu dan para Tengkulak
tidak punya mata-mata bahwa ada barang imut dikampungnya. padahal
kemarin bu eRTe beli toge rong on (dua ons), se RT ngerti kabeh.
"Namanya dimana wong ayu ?" tanya Sentanu. " Ah
baginda raja tiru-tiru pelawak Timbul ya kalau tanya nama sok
diplesetake, kelawik-lawik."
"Nama saya Setyawati."
Sang puteri langsung dilamar. Yang ngelamar raja, bapaknya
langsung setuju, malah merasa dapat anugrah. Cuma ada team
pembisik bilang, jangan cuma mau dikawinin, iket dengan janji,
bilang cucu eluh entar bakal jadi Putra Mahkota, namanya juga
raja. Dapet nyang demplon lupa yang dirume. Mending kalo dimodalin
sekolah lantas bikin Institut.
"Wah nggak bisa, saya terlanjur janji dengan Ratu Jin
Laut Selatan (baru "ngeh" saya sekarang, cerita
Raja kawin dengan penguasa laut rupanya sudah ada berabad-abad
di India), maksudku Ratu Jin Sungai."
Negosiasi berjalan alot sebab sang Nelayan pasang harga
mati. Keturunannya harus jadi Raja - end of story. Kapan lagi
bisa kesempatan ganti darah, jadi biru, metalik lagi.
Sang Duda, akhirnya patah hati, niat kawin dengan Satyawati,
yang ABG, tapi terlanjur janji dengan ibunya si Dewabrata. Nelayan
sekarang kok pintar, apa ada LSM menyusup didalamnya ya.
Mau bawa-bawa pasal 33 UUD, ini bukan urusan tambang. Walaupun
ada juga sedikit sama-sama terlibat unsur pengeboran.
Akhirnya negara mulai kacau, raja cuma mikirin anak nelayan
yang kadang merangkap jual ikan asin Jambal.
DEWABRATA AMBIL TINDAKAN PEMULIHAN
Dewabrata, biar anak jin tapi hatinya baek dan mulia.
Didatanginya babenya Setyawati. No Worry Chief, gua bakalan
nolak jadi Raja, sekarang juga gua pegang ini mike, gua ucapkan
pengumuman, bahwa kalau cucumu lahir jantan, pasti jadi
Raja, seluruh keluarga saya jamin keselamatannya. Gua pasang
badan nih. Swear. Berani disamber gledek.
Iba juga sang anak nelayan (tidak sederhana), melihat
perangai Dewabrata. Tapi, ada sang pembisik, bilang "Dia
memang tidak ambisi, tapi anaknya gimana, mending cuma minta
monopoli pembuatan perahu atau kontak bikin jalan, kalau minta
tahta ?". Di masa yang akan datang, juga ada orang yang
selalu tukang bisik dan adu domba rupanya.
Dewabrata, sekalipun memiliki privilese, kredibilitas, legitimasi,
kesaktian, akredibilitas dan KESEMPATAN, malahan bersumpah "Tidak
akan menikah dengan wanita....." tapi percaya saja, Dewabrata
juga tidak pernah menikah dengan pria.
Akibat sumpahnya, kayangan jadi gonjang ganjing, kalau di WO
Barata, lampu berganti warna merah, biru, kuning secara cepat,
tambur di tabuh terus menerus, dan diujung panggung ada dry
ice. Ini sumpah sungguh dahsyat, bila dibandingkan sumpah
lainnya. Gara-gara ini, Dewabrata diberi gelar BHISMA yang
artinya "ide yang terrible, anehnya". Oh ya satu lagi,
dia diberi kehebatan "ora tedas tapak palune pande".
Nanti baru bisa mati, kalau memang mau mati. Dalam perang
Bharatayudha, dia baru mau mati ditangan Srikandhi (cowok yang
berubah kelamin jadi cewek).
Satyawati yang seputih mlati, harum semerbak sepanjang hari
- ikutan sinetron Gerhana, lantas diboyong keistana. Sampai akhirnya
melahirkan dua putera.
|