gajahsora.net

 

  

 

 

MEMPROVOKASI DEMO PRT DI JEDDAH

Malang  nian nasib Kartini binti Karim,35, seorang TKW yang bekerja di Uni  Emirat  Arab,  maksud  hati  memeriksakan kesehatan diri dan bayi merah usia sebulan di sebuah klinik di Fujairah, Uni Emirat Arab, tapi apa  daya,  nyawanya terancam rajam akibat ulah poliklinik yang diharapkan bisa menyelamatkan nyawanya  ternyata  berubah  menjadi  sarana  penjagalan atas dirinya. Sumpah  hipokrates yang didengungkan oleh para dokter klinik pada saat wisuda  kelulusannya, tidak berlaku nampaknya disini. Lain padang lain belalang.

Ini  gara-gara  oleh medik setempat ia ketahuan punya anak tanpa surat yang  lengkap. Sementara itu pasangan campur-aduknya, M. Sulaiman asal India  kabur  tak  tentu  rimbanya,  Kompas 3/2. Ribuan kilometer dari Fajira  yaitu  di  Rengasdengklok,  Jawa  Barat,  suami  sah  Kartini, Warsin, 45,  dan  dua  orang  anaknya  di  dusun  Rawakepuh,  Kabupaten Karawang,  menderita  karena  selain hilangnya kucuran dana yang biasa dikirim  isterinya,  juga  harus  menanggung  beban akibat pemberitaan media yang gencar.

Penghujung  bulan  Februari  1995  dalam suatu perjalanan bisnis, saya sempat  menunggu  berjam jam  bandara  King  Abdul Aziz. Yang menarik, ketika   waktu   sembahyang  tiba,  semua  kegiatan  dihentikan  untuk mendengarkan   alunan  azan.  Para  petugas  imigrasi,  polisi,  semua mendadak  seperti  patung mendengarkan dengan hidmat sampai azan usai.

Toko-toko  ditinggalkan  begitu  saja.  Orang secara tertib mendatangi mesjid   terdekat  atau  kalau  tak  sempat  sembahyang  dimana  saja. Melakukan salat di gang, di jalan-jalan, di ruang tunggu.

Jeddah  dikenal  sebagai  tempat  keluar  masuknya  para TKW kita yang bekerja di Arab Saudi. Dibandara itu saya perhatikan tingkah laku para TKI  pada  umumnya TKW pada khususnya. Mereka biasanya bergerombol dan cenderung tidak tertib. Waktu antri untuk pemeriksaan tiket, misalnya, mungkin lantaran rasa gembira seakan lepas dari stress kerja di tempat majikannya  yang  cerewet  seperti Nadya (bos Kartini) ditambah dengan rasa kangennya untuk bisa berkumpul dengan sanak saudara di tanah air, kadang-kadang  mereka  keluar  barisan,  sehingga  harus dihardik oleh petugas  keamanan bandara. Tetapi tertib antripun tidak bertahan lama, sebab  begitu  petugas  mengendorkan  pengawasannya,  rombongan saling serobot.

Lama-lama  petugas jadi jengkel, pelanggar antrian lantas dihardik dan didorong-dorong secara kasar untuk masuk barisan.

Di  ruang  tunggu,  suasana  tetap  riuh.  Saya curi dengar percakapan mereka  dalam  bahasa  daerah,  Jawa, ada TKW yang membeli 50 kilogram kurma. Pasti cuma untuk dibagi-bagikan rekan ditempat tinggalnya sana. Belum  lagi  bawaan  kelas  "bulky" seperti air zam-zam, atau souvenir lainnya.

Ada  TKW  yang  diantar  oleh  majikannya  dan anak-anaknya yang kecil "ndrindil."  Beberapa  menunjukkan  muka  murung karena harus berpisah dengan  orang  yang selalu melayaninya selama ini. Disudut lain nampak majikan  yang  repot menukar uang Arab Saudi ke rupiah untuk diberikan
kepada para "bedindenya".

Ketika  waktu  "boarding" tiba, yang cuma 3 jam terlambat dari rencana semula,  kami masuk kedalam shuttle bis yang "insyaallah" akan membawa ke  GA 9912. Saya bilang insya allah sebab pengemudi bis mengira, atau lebih cenderung ngotot mengatakan tujuan rombongan kami adalah Suriah.

Kebetulan  saya  yang  duduk  dikursi depan melihat ditengah kegelapan malam  bis  berhenti  didepan pesawat bertuliskan Suriah Airways. Saya ketuk  dinding  kaca  pembatas  kabin  pengemudi dengan penumpang, "NO Suriah,  Garuda,  Garuda, Indonesia." Sia-sia, bis malahan di hentikan tepat  di  tangga masuk pesawat. Saya hanya bisa menyumpah dalam hati.
Kalau  lima  tahun lagi kejadiannya, pasti saya akan ikutan bilang Walla,  ulla  ulla ulla, hora, walla walla walla," ikutan iklan di teve.

Saya  tanya  kepada  mbak TKW yang bisa bicara Arab, untuk menjelaskan tujuan pesawat kepada supir. Beberapa wajah melongok kedalam bis masih juga  menyuruh  penumpang  turun  dan  masuk  ke Suriah. Seperti koor, mereka meneriakkan, "Garuda!, Indonesia!, Garuda!, Indonesia!." Persis seperti "demo" mini dan berlangsung sangat singat.

"Demo  kecil" nyatanya mempan. Akhirnya bis berputar dikegelapan malam mencari pesawat Garuda yang letaknya masih jauh dari lokasi semula.

Di  pesawat  Airbus,  seorang  TKW  membawa bayi berada duduk di kursi tengah.  Dia minta kepada sepasang suami istri yang kelihatannya untuk berganti  tempat  agar  siibu  dan  anaknya  bisa  pindah  duduk dekat jendela.  Mungkin,  pikirnya  agar  mudah  untuk mempersiapkan makanan ataupun  minuman  selama  perjalanan  panjang  ini,  tanpa  mengganggu penumpang  yang  lain.

Sementara  sang  suami  menunggu  keputusan  istri,  sang isteri hanya melirik  tajam  ibu  TKW,  tanpa  sepatah  katapun. Bahasa yang sangat dimengerti  oleh  ibu  TKW.  Ah  pahlawan  wanitaku, pembawa devisa ke Indonesia,  bayi  merah  yang  kau  gendong  belum mampu mengubah cara pandang dan pikir sebahagian bangsa atas seorang PRT.

Sepanjang  perjalanan saya amati bayi tersebut berambut agak keriting, mata  bulat  dan  legam.  Pasti ada darah arab mengalir. Tapi sang ibu mengatakan  bahwa  suaminya orang Indonesia, mereka bertemu di Jeddah, menikah,  lalu  bercerai  karena  sang  suami  tergoda perempuan lain.
Sewaktu bercerita, tidak nampak kesedihan diwajah sang ibu.

Ketika  mendekati  bandara  Sukarno  Hatta,  suasana  gembira  berubah menjadi  sedikit panik. Rupa-rupanya masih ada TKW ada yang tidak bisa membaca,  apalagi menulis. Saya menawarkan diri untuk mengisi formulir yang  diberikan oleh pihak imigrasi. Ternyata beberapa diantara mereka
menggunakan Passpor yang ijinnya cuma untuk melaksanakan ibadah Umroh, tapi dimanfaatkan untuk cari kerja di sana.

Pelanggaran  inilah yang akhirnya menjadikan peluang pihak tertentu di Indonesia untuk memerasnya.

Kalau  saja  ibu  dan  bayi tadi ada di Fajirah, lima tahun mendatang, mungkin saya tidak sempat menemuinya di pesawat Garuda GA9912.

Next   Kolom Yusuf Iskandar
     
 Home