|
|
|
GURAME
JUGA PERLU DIRAYAKAN
Kalau merayakan hari ulang tahun Kemerdekaan RI, atau merayakan
Tahun Kelahiran adalah soal biasa, tapi ini merayakan Ikan di
Kolam.
"Bapak mau merayakan Gurame di sini ?" - begitu
pertanyaan yang diajukan dalam suatu kesempatan mengunjungi kolam
seorang petani ikan gurame di desa Caringin, Depok, sekitar 10
km selatan Jakarta.
Tentu saja saya terheran-heran dengan pertanyaan tersebut
sebab baru berkenalan sudah diberondong pertanyaan untuk "merayakan"
ikan di dalam kolam. Apakah ikan sekarang sudah mengenal ulang
tahun, atau ikutan memerdekakan diri ?
Seperti diketahui, mata pencarian penduduk desa Caringin ini
adalah bertani atau berdagang. Selain hidup dari hasil pertanian
seperti kacang cabut, ketimun, jagung, mereka umumnya mencari
hasil sampingan dengan yang memelihara ikan seperti Gurame, Tawes,
Nila, Lele, Mujair, Ikan Karper (mas) secara tradisional. Disebut
tradisional sebab pada umumnya kolam ikan yang dibuatnya terbuat
dari tanah, dengan pengairan mengandalkan parit irigasi. Mereka
memelihara ikan pemakan tumbuhan seperti Gurame, Tawes, Mujair
dan Ikan Karper (mas). Dulu sebelum krisis, petani juga memelihara
sejenis ayam ras, tetapi dengan melambungnya harga pakan ayam,
usaha tersebut kebanyakan gulung tikar.
Dengan memelihara ikan pemakan tumbuhan, maka petani cukup
mengandalkan potongan sisa sayuran seperti daun singkong, daun
senthe (talas), kangkung, bayam untuk pakan peliharaannya. Kotoran
ayam, kambing, kerbau (sapi hampir-hampir tidak ada disini),
menjadi menu sehari-hari sang ikan. Kalau ada hajatan, misalnya,
bisa dipastikan tidak ada sisa nasi, sisa daging pada tulang
ikan atau tulang ayam yang terbuang karena limbah tersebut segera
menjadi rebutan untuk dibungkus dan dibawa pulang sebagai oleh
- oleh binatang kesayangannya.
Pemberian "pellet" pakan keluaran pabrik sudah merupakan
"barang mewah" dan tidak terjangkau oleh kantong mereka.
Apalagi harga ikan kadang-kadang jatuh.
Pellet diberikan hanya untuk memprovokasi ikan yang selalu
bergerombol di dasar kolam. Bau pellet yang terapung diair akan
merangsang ikan muncul ke permukaan air mencari sumber makanan
tersebut. Ketika mereka berebut pakan, pemiliknya secara kira-kira
menghitung kerumunan tersebut.
Hal ini dilakukan mengingat memelihara ikan juga menanggung
resiko di "teror" pihak luar mulai dari kedatangan
pasukan ikan liar diluar kendali operasi, burung pemangsa, biawak,
lingsang, belut, ular dan pencuri ikan yang selalu mencari kesempatan
memanfaatkan kelengahan pemilik ikan. Belum lagi serangan penyakit
sejenis jamur maupun virus yang cepat sekali mewabah didalam
kolam.
Istilah membesarkan ikan, dikenal sebagai "meraya"
(kan) ikan. Jadi jangan heran kalau ada orang menanyakan hal serupa
kepada anda, jelas bukan merayakan hari ulang tahun menetasnya
ikan.
|