Antara FDo It dan Plan It
Jamu Keladi Tikus -pengerat kanker, hubungi iboe Erni di HP 0812 802 5102 atau (021) 5601215

Antara “Do It” Dan “Plan It”
 

Jika kebetulan suatu kali Anda berkendaraan melakukan perjalanan darat antar kota di Jawa, atau di daerah mana saja, akan Anda jumpai sangat banyak toko-toko baru dan lama berdiri di hampir setiap penggal jalan dan sudut kota yang Anda lewati. Di sana ada puluhan toko berkonsep modern, ratusan toko semi-modern dan ribuan toko-toko tradisional. Ada yang nampak berkembang pesat dan ada yang hidup segan mati tak mau. Hari demi hari, mereka semua bergelut mengumpulkan rupiah demi rupiah, membangun dan mengembangkan usahanya. Ada yang dapatnya sedikit dan tetap bersujud syukur dan ada yang dapatnya banyak dan tetap ingin lebih banyak lagi. Dan, “Madurejo Swalayan” adalah satu di antara ribuan toko itu yang sedang merintis usahanya.

Jika Anda sempat mampir di salah satu atau dua dari ribuan toko yang Anda pandang cukup berkembang, lalu Anda tanyakan pertanyaan kepada mereka : “Bagaimana usahanya, Pak?. Kelihatannya sudah berkembang baik dan maju”. Maka jawabnya : “Ya, lumayanlah, sedikit-sedikit ada peningkatan”.

Di balik kalimat bernada merendah ini, kalau digali lebih dalam maka jawaban yang sebenarnya adalah : “Dulu toko saya kecil, sekarang sudah agak besar”. Atau : “Dulu saya hanya punya satu toko, sekarang saya punya dua”. Atau : “Dulu saya menggunakan sepeda motor untuk kesana-kemari, sekarang sudah ada mobil untuk operasional”.

Atau : “Dulu rumah saya kecil di pojok kampung sana, sekarang sudah dibangun tingkat”. Anda pun hanya manggut-manggut terkagum-kagum.

Cobalah untuk membangkitkan rasa penasaran pada diri Anda, lalu ajukanlah pertanyaan “aneh” berikutnya : “Sebelum usaha Bapak berhasil seperti sekarang ini, bagaimana Bapak mengawasi operasi toko sehari-harinya untuk mengetahui apakah bisnis sedang bergerak maju atau malah mundur?”. Atau dengan kata lain : “Apakah sebelum memulai usaha ini Bapak mempunyai semacam rencana usaha atau business plan?”. Maka saya yakin sangat sedikit sekali yang menjawab : “Ya”.

Apalagi kalau pertanyaan itu Anda ajukan ke pengelola toko semi-modern atau bahkan toko tradisional, maka pemilik toko akan menjeb (tersenyum) sambil menggelengkan kepala karena tidak mudheng (paham) pertanyaan Anda, sambil berkata dalam hati : “Panganan opo to kuwi?” (makanan apa itu). Itu karena selama ini mereka bekerja atas dasar tradisi turun-temurun sejak kehidupan ini dimulai, dan fakta bahwa dengan berbekal keuletan, ketekunan dan kesabaran dalam mengelola usaha tokonya itu, modal yang mereka miliki dapat terus berputar dan tokonya semakin berkembang. Mereka pun dapat terus menghidupi keluarganya, menyekolahkan anaknya, membelikan kebutuhan hidup rumah tangganya, dsb.

Kini, pertanyaannya : Untuk memulai sebuah usaha toko, apakah sebuah rencana bisnis (bussiness plan) itu diperlukan? Jika Anda sependapat dengan jalan pikiran para pengusaha toko tradisional seperti dalam ilustrasi di atas, maka jelas Anda tidak memerlukan sebuah rencana bisnis. Dan itu bukanlah hal yang salah, sebab jika dipaksakan juga hanya akan membuat kepala nyut-nyutan seperti mau pecah.

Sebaliknya, jika Anda concern terhadap perlunya memantau dan mengukur perkembangan usaha dari bulan ke bulan, tahun ke tahun, maka Anda perlu mempersiapkan sebuah rencana bisnis sebelum memulai usaha. Atau, jika Anda merasa perlu untuk memastikan lebih dahulu akan kelayakan usaha itu. Atau, jika Anda merasa berkepentingan untuk mengetahui dengan persis apakah usaha Anda sesuai dengan yang direncanakan dan ditargetkan, atau kinerja tingkat pengembalian modalnya lebih baik atau lebih buruk, maka Anda akan memerlukan adanya rencana bisnis.

Menurut logika coro bodon (cara bodoh) yang ada di pikiran saya, itulah beda antara “Just Do It” (pokoknya lakukan saja) dan “Just Plan It” (pokoknya rencanakan saja) yang saya singgung sebelumnya, saat kita akan memulai bisnis. Dan, membuat business plan sederhana itu guampang sekale…... Hanya perlu banyak tepekur dan melamun sambil leyeh-leyeh (berbaring santai), lalu sedikit mikir dan berkhayal, menghimpun inspirasi, mengumpulkan angka-angka, lalu menuangkannya dalam sebuah tabel.

***

Penganut aliran “Just Plan It” akan merencanakan lebih dahulu sebaik-baiknya sebelum mulai membuka toko. Maka, memiliki business plan (rencana bisnis) adalah termasuk langkah awal untuk mengetahui dan memproyeksikan gerak liak-liuk bisnis seperti apakah yang diinginkan oleh pemilik atau pengelolanya. Kami mengkonsentrasikan perihal rencana bisnis ini pada hal-hal yang terkait dengan produksi (omset toko) dan masalah pembiayaan (finansial), yang dituangkan dalam lembar kerja berbentuk tabel. Hal-hal di luar itu kiranya dapat untuk tidak diprioritaskan terlebih dahulu pada tahap paling awal, tidak berarti diremehkan. Urusan thethek-bengek selain masalah keuangan pada gilirannya juga perlu mendapatkan perhatian semestinya.

Apa yang harus dilakukan untuk membuat business plan?
Mulai dengan mengumpulkan semua jenis pembiayaan yang dikeluarkan. Ada orang yang suka dengan pengelompokan antara capital cost dan operating cost, ada juga yang memilih pemisahan antara fixed cost dan variable cost.

Pengelola “Madurejo Swalayan” menempuh cara yang dibuat mudah saja, menggunakan terminologi biaya modal dan biaya operasi dengan sedikit modifikasi dalam komponen biayanya. Tidak perlu gusar dengan urusan biayaan seperti ini. Yang penting tidak melenceng dari ngelmu pem-biayaan untuk tujuan financial analysis.

Biaya-biaya apa saja? Pertama, tentunya menghitung-hitung perkiraan berapa total biaya modal dibutuhkan, baik modal tetap seperti properti maupun modal kerja. Kedua, menentukan perkiraan target omset harian rata-rata yang layak dicapai bertahap mulai bulan pertama dan tahun pertama, sampai katakanlah,
proyeksi hingga 15 tahun ke depan.  

Angka perkiraan rata-rata omset harian ini memang sebaiknya tidak mengambil begitu saja dari langit, melainkan perlu kejelian membaca potensi pasar. Hal-hal yang dapat dijadikan pedoman antara lain mencari (atau mencuri juga boleh) tahu berapa omset toko sejenis di sekitar kawasan toko kita, dan seberapa besar potensi calon pelanggan yang diperkirakan dapat diserap. Bisa juga dengan berpedoman pada pengalaman toko swalayan sejenis dan sekelas toko kita meskipun berada di lokasi lain, bagaimana kinerja mereka pada waktu-waktu awal dulu ketika tokonya mulai buka (biasanya pemilik toko masih ingat).

Ketiga, menghitung berapa kira-kira keuntungan bersih yang dapat diperoleh. Asumsikan, margin keuntungan rata-rata adalah 10%, lalu dikalikan omset harian rata-ratanya. Keempat, menghitung berapa biaya operasional setiap bulan yang harus dikeluarkan. Maka akan dengan mudah diketahui berapa total pengeluaran dan total pemasukan, yang lalu diproyeksikan sepanjang 15 tahun ke depan dengan memperhitungkan asumsi tingkat kenaikan omset penjualannya maupun biaya operasinya.

Setelah angka-angka tersebut dikumpulkan, selanjutnya hanya diperlukan alat sederhana, bernama “pipo londo” alias ping-poro-lan-sudo (kali-bagi-tambah-kurang), untuk menghitung angka aliran uang tunai (cashflow) bulanan atau tahunannya. Dengan alat itu akan dengan mudah untuk mengetahui kapan balik modal (break-even).
Lebih jauh lagi dapat diketahui pula berapa tingkat pengembalian modalnya (return on investment). Bagi yang biasa kerja dengan komputer, program excel akan siap membantu menghitungnya. Kalau mau sedikit agak repot, sebenarnya banyak buku yang membahas tentang hal ini.

Nah, dari lembar kerja itulah maka akan dapat diketahui berapa omset harian rata-rata yang harus dicapai agar supaya usaha tokonya menguntungkan. Atau sebaliknya, komponen biaya-biaya apa saja yang dapat dihemat agar lebih menguntungkan. Seiring berjalannya usaha, pengelola toko dapat selalu mengevaluasi pencapaian atau kinerja tokonya dari periode waktu ke waktu, dan lalu menyiasatinya dengan langkah-langkah jitu. Jika ternyata performance tokonya menunjukkan angka jeblok atau meleset terus-menerus, segera dapat digelar sidang kabinet terbatas bidang omset toko, guna mengevaluasi dua hal : strategi tempur di lapangan yang salah atau penentuan sasaran tembaknya yang salah.

Pertanyaan yang barangkali muncul adalah : “Saya tidak tahu berapa angka-angka perkiraan yang sesuai untuk rencana toko saya?”. Tidak perlu khawatir, dapat dipikir sambil tidur, gunakan indera keenam, gunakan “feeling”, entoh masih cunthel (buntu) juga, tanyakan kepada orang gila yang suka duduk-duduk di sudut jalan, lalu isikan angkanya…….. Berjalannya waktu, lakukan revisi ketika menemukan angka yang lebih baik.
 

Pengalaman saya menjadi orang gajian selama 16 tahun di perusahaan berkelas internasional mengajarkan bahwa revisa-revisi rencana bisnis adalah hal yang lumrah, meskipun versi pertama tetap menjadi referensi.

Ibarat perumpamaan mengatakan, “Just Do It” di tangan kiri dan “Just Plan It” di tangan kanan. Anda tinggal pilih hendak melangkah dengan mengayunkan tangan kiri dulu atau tangan kanan dulu. (Sebaiknya tidak mengayunkan kedua tangan sekaligus, nanti dikira penari latar Pentas nDang-ndut……..).

Dan, pemilik “Madurejo Swalayan” memilih untuk mengambil langkah tegap dengan mengayunkan tangan kanan terlebih dahulu.


Madurejo, Sleman – 31 Januari 2006 (Tahun Baru 1427 Hijriyyah).
Yusuf Iskandar

http://gajahsora.com