Antara “Do It” Dan “Plan It”
Jika kebetulan suatu kali Anda berkendaraan melakukan perjalanan
darat antar kota di Jawa, atau di daerah mana saja, akan Anda jumpai
sangat banyak toko-toko baru dan lama berdiri di hampir setiap
penggal jalan dan sudut kota yang Anda lewati. Di sana ada puluhan
toko berkonsep modern, ratusan toko semi-modern dan ribuan toko-toko
tradisional. Ada yang nampak berkembang pesat dan ada yang hidup
segan mati tak mau. Hari demi hari, mereka semua bergelut
mengumpulkan rupiah demi rupiah, membangun dan mengembangkan
usahanya. Ada yang dapatnya sedikit dan tetap bersujud syukur dan
ada yang dapatnya banyak dan tetap ingin lebih banyak lagi. Dan, “Madurejo
Swalayan” adalah satu di antara ribuan toko itu yang sedang merintis
usahanya.
Jika Anda sempat mampir di salah satu atau dua dari ribuan toko yang
Anda pandang cukup berkembang, lalu Anda tanyakan pertanyaan kepada
mereka : “Bagaimana usahanya, Pak?. Kelihatannya sudah berkembang
baik dan maju”. Maka jawabnya : “Ya, lumayanlah, sedikit-sedikit ada
peningkatan”.
Di balik kalimat bernada merendah ini, kalau digali lebih dalam maka jawaban yang sebenarnya adalah : “Dulu toko saya kecil, sekarang sudah agak besar”. Atau : “Dulu saya hanya punya satu toko, sekarang saya punya dua”. Atau : “Dulu saya menggunakan sepeda motor untuk kesana-kemari, sekarang sudah ada mobil untuk operasional”.
Atau : “Dulu rumah saya kecil di pojok kampung sana, sekarang
sudah dibangun tingkat”. Anda pun hanya manggut-manggut
terkagum-kagum.
Cobalah untuk membangkitkan rasa penasaran pada diri Anda, lalu
ajukanlah pertanyaan “aneh” berikutnya : “Sebelum usaha Bapak
berhasil seperti sekarang ini, bagaimana Bapak mengawasi operasi
toko sehari-harinya untuk mengetahui apakah bisnis sedang bergerak
maju atau malah mundur?”. Atau dengan kata lain : “Apakah sebelum
memulai usaha ini Bapak mempunyai semacam rencana usaha atau
business plan?”. Maka saya yakin sangat sedikit sekali yang menjawab
: “Ya”.
Apalagi kalau pertanyaan itu Anda ajukan ke pengelola toko
semi-modern atau bahkan toko tradisional, maka pemilik toko akan
menjeb (tersenyum) sambil menggelengkan kepala karena tidak mudheng
(paham) pertanyaan Anda, sambil berkata dalam hati : “Panganan opo
to kuwi?” (makanan apa itu). Itu karena selama ini mereka bekerja
atas dasar tradisi turun-temurun sejak kehidupan ini dimulai, dan
fakta bahwa dengan berbekal keuletan, ketekunan dan kesabaran dalam
mengelola usaha tokonya itu, modal yang mereka miliki dapat terus
berputar dan tokonya semakin berkembang. Mereka pun dapat terus
menghidupi keluarganya, menyekolahkan anaknya, membelikan kebutuhan
hidup rumah tangganya, dsb.
Kini, pertanyaannya : Untuk memulai sebuah usaha toko, apakah sebuah
rencana bisnis (bussiness plan) itu diperlukan? Jika Anda sependapat
dengan jalan pikiran para pengusaha toko tradisional seperti dalam
ilustrasi di atas, maka jelas Anda tidak memerlukan sebuah rencana
bisnis. Dan itu bukanlah hal yang salah, sebab jika dipaksakan juga
hanya akan membuat kepala nyut-nyutan seperti mau pecah.
Sebaliknya, jika Anda concern terhadap perlunya memantau dan
mengukur perkembangan usaha dari bulan ke bulan, tahun ke tahun,
maka Anda perlu mempersiapkan sebuah rencana bisnis sebelum memulai
usaha. Atau, jika Anda merasa perlu untuk memastikan lebih dahulu
akan kelayakan usaha itu. Atau, jika Anda merasa berkepentingan
untuk mengetahui dengan persis apakah usaha Anda sesuai dengan yang
direncanakan dan ditargetkan, atau kinerja tingkat pengembalian
modalnya lebih baik atau lebih buruk, maka Anda akan memerlukan
adanya rencana bisnis.
Menurut logika coro bodon (cara bodoh) yang ada di pikiran saya,
itulah beda antara “Just Do It” (pokoknya lakukan saja) dan “Just
Plan It” (pokoknya rencanakan saja) yang saya singgung sebelumnya,
saat kita akan memulai bisnis. Dan, membuat business plan sederhana
itu guampang sekale…... Hanya perlu banyak tepekur dan melamun
sambil leyeh-leyeh (berbaring santai), lalu sedikit mikir dan
berkhayal, menghimpun inspirasi, mengumpulkan angka-angka, lalu
menuangkannya dalam sebuah tabel.
***
Penganut aliran “Just Plan It” akan merencanakan lebih dahulu
sebaik-baiknya sebelum mulai membuka toko. Maka, memiliki business
plan (rencana bisnis) adalah termasuk langkah awal untuk mengetahui
dan memproyeksikan gerak liak-liuk bisnis seperti apakah yang
diinginkan oleh pemilik atau pengelolanya. Kami mengkonsentrasikan
perihal rencana bisnis ini pada hal-hal yang terkait dengan produksi
(omset toko) dan masalah pembiayaan (finansial), yang dituangkan
dalam lembar kerja berbentuk tabel. Hal-hal di luar itu kiranya
dapat untuk tidak diprioritaskan terlebih dahulu pada tahap paling
awal, tidak berarti diremehkan. Urusan thethek-bengek selain masalah
keuangan pada gilirannya juga perlu mendapatkan perhatian semestinya.
Apa yang harus dilakukan untuk membuat business plan?
Mulai dengan mengumpulkan semua jenis pembiayaan yang dikeluarkan.
Ada orang yang suka dengan pengelompokan antara capital cost dan
operating cost, ada juga yang memilih pemisahan antara fixed cost
dan variable cost.
Pengelola “Madurejo Swalayan” menempuh cara yang dibuat mudah
saja, menggunakan terminologi biaya modal dan biaya operasi dengan
sedikit modifikasi dalam komponen biayanya. Tidak perlu gusar dengan
urusan biayaan seperti ini. Yang penting tidak melenceng dari ngelmu
pem-biayaan untuk tujuan financial analysis.
Biaya-biaya apa saja? Pertama, tentunya menghitung-hitung perkiraan
berapa total biaya modal dibutuhkan, baik modal tetap seperti
properti maupun modal kerja. Kedua, menentukan perkiraan target
omset harian rata-rata yang layak dicapai bertahap mulai bulan
pertama dan tahun pertama, sampai katakanlah,
proyeksi hingga 15 tahun ke depan.
Angka perkiraan rata-rata omset harian ini memang sebaiknya tidak
mengambil begitu saja dari langit, melainkan perlu kejelian membaca
potensi pasar. Hal-hal yang dapat dijadikan pedoman antara lain
mencari (atau mencuri juga boleh) tahu berapa omset toko sejenis di
sekitar kawasan toko kita, dan seberapa besar potensi calon
pelanggan yang diperkirakan dapat diserap. Bisa juga dengan
berpedoman pada pengalaman toko swalayan sejenis dan sekelas toko
kita meskipun berada di lokasi lain, bagaimana kinerja mereka pada
waktu-waktu awal dulu ketika tokonya mulai buka (biasanya pemilik
toko masih ingat).
Ketiga, menghitung berapa kira-kira keuntungan bersih yang dapat
diperoleh. Asumsikan, margin keuntungan rata-rata adalah 10%, lalu
dikalikan omset harian rata-ratanya. Keempat, menghitung berapa
biaya operasional setiap bulan yang harus dikeluarkan. Maka akan
dengan mudah diketahui berapa total pengeluaran dan total pemasukan,
yang lalu diproyeksikan sepanjang 15 tahun ke depan dengan
memperhitungkan asumsi tingkat kenaikan omset penjualannya maupun
biaya operasinya.
Setelah angka-angka tersebut dikumpulkan, selanjutnya hanya
diperlukan alat sederhana, bernama “pipo londo” alias ping-poro-lan-sudo
(kali-bagi-tambah-kurang), untuk menghitung angka aliran uang tunai
(cashflow) bulanan atau tahunannya. Dengan alat itu akan dengan
mudah untuk mengetahui kapan balik modal (break-even).
Lebih jauh lagi dapat diketahui pula berapa tingkat pengembalian
modalnya (return on investment). Bagi yang biasa kerja dengan
komputer, program excel akan siap membantu menghitungnya. Kalau mau
sedikit agak repot, sebenarnya banyak buku yang membahas tentang hal
ini.
Nah, dari lembar kerja itulah maka akan dapat diketahui berapa omset
harian rata-rata yang harus dicapai agar supaya usaha tokonya
menguntungkan. Atau sebaliknya, komponen biaya-biaya apa saja yang
dapat dihemat agar lebih menguntungkan. Seiring berjalannya usaha,
pengelola toko dapat selalu mengevaluasi pencapaian atau kinerja
tokonya dari periode waktu ke waktu, dan lalu menyiasatinya dengan
langkah-langkah jitu. Jika ternyata performance tokonya menunjukkan
angka jeblok atau meleset terus-menerus, segera dapat digelar sidang
kabinet terbatas bidang omset toko, guna mengevaluasi dua hal :
strategi tempur di lapangan yang salah atau penentuan sasaran
tembaknya yang salah.
Pertanyaan yang barangkali muncul adalah : “Saya tidak tahu berapa
angka-angka perkiraan yang sesuai untuk rencana toko saya?”. Tidak
perlu khawatir, dapat dipikir sambil tidur, gunakan indera keenam,
gunakan “feeling”, entoh masih cunthel (buntu) juga, tanyakan kepada
orang gila yang suka duduk-duduk di sudut jalan, lalu isikan
angkanya…….. Berjalannya waktu, lakukan revisi ketika menemukan
angka yang lebih baik.
Pengalaman saya menjadi orang gajian selama 16 tahun di
perusahaan berkelas internasional mengajarkan bahwa revisa-revisi
rencana bisnis adalah hal yang lumrah, meskipun versi pertama tetap
menjadi referensi.
Ibarat perumpamaan mengatakan, “Just Do It” di tangan kiri dan “Just
Plan It” di tangan kanan. Anda tinggal pilih hendak melangkah dengan
mengayunkan tangan kiri dulu atau tangan kanan dulu. (Sebaiknya
tidak mengayunkan kedua tangan sekaligus, nanti dikira penari latar
Pentas nDang-ndut……..).
Dan, pemilik “Madurejo Swalayan” memilih untuk mengambil langkah
tegap dengan mengayunkan tangan kanan terlebih dahulu.
Madurejo, Sleman – 31 Januari 2006 (Tahun Baru 1427 Hijriyyah).
Yusuf Iskandar