Selepas lawatan saya ke Mexico, setelah melalui perbatasan
US-Mexico di El Paso, Texas dan memasuki wilayah New Mexico di
Interstate-25, saya dan keluarga harus melalui pemeriksaan yang
dilakukan oleh Polisi Perbatasan AS (US Border Police)..Untuk
warga AS sendiri sebenarnya ini tidak masalah sama sekali, karena
Pak Polisi hanya menanyakan, "Are you US citizen..?",
cukup dijawab dengan, "Yep.." lantas boleh lewat dengan
begitu saja.
Begitu sampai giliran saya, setelah mobil diberhentikan, sebenarnya
saya ingin juga coba2 memberikan jawaban "Yep" juga,
tapi kok rasanya gentar juga, soal sepele tapi jelas2 melanggar
hukum.., maka jawaban yang saya berikan adalah, "Nope..we're
not..". Lantas beliau menanyakan dokumen2 (paspor, i.d)..
Paspor saya berikan dan di bolak-balik sama beliau, begitu
terbaca Republik Indonesia, Pak Polisi tersebut terlihat sedikit
nyureng...lantas katanya.., "You know what, I was born in
Bendong..."
Ternyata Pak Polisi ini adalah orang Belanda kelahiran Bendong (Bandung
menurut logat beliau), masa kanak2 dilewatkan di Pelmbang (Palembang)
mengikuti ayahnya sebagai karyawan Shell, besar di Den Haag,
dan saat ini sudah menjadi warga AS, dan bekerja di New Mexico
Weleh..weleh..,
walhasil kita akhirnya ngobrol selama lebih kurang 10 menit..,
kebetulan isteri saya juga bisa sedikit bicara londo..
Beliau juga menyatakan kerinduannya akan sate ayam dan nasi
ghoreng....Memang masakan Indonesia tak ada duanya..., meskipun
sudah lebih dari 30 tahun tidak pernah berjumpa, ternyata kedua
makanan tersebut masih melekat di hatinya dan tetap dirindukan...sampai beliau menanyakan, "Do you have nasi ghoreng and sate ayam
with you..?"
Pengantar: Bulan Oktober
2004, Bob Wikan mendapat kesempatan mengunjungi Praha. Sebagai seorang
DOKTOR (PHD) dalam ilmu kebumian mengirimkan oleh-oleh kepada saya
berupa kisah perjalanan di Praha. Ia memanggil saya dengan Mimbarsky dan
mewisuda namanya dengan Bobsky. Sebab itulah kebiasaan disalah satu
bekas negara-nya Presiden Toto yang berantakan. Bob pernah berkeinginan
menjadi "stupid mudlogger" seperti saya. Namun cuma sebentar, lalu
mendalami ilmunya di Amerika sampai menebas Doktor. Tulisan ini
dibuatnya disela-sela presentasi AAPG (American Association of Petroleum
Geologist). Selamat membaca ...Mimbar
****
Praha, begitu lidah kita mengenalnya, adalah ibukota dari negara Czheck,
atau Ceko, yang belum lama berpisah dari sekandungnya Slovakia.
Kota ini sangat indah, dengan gedung-gedung tuanya yang apik terpelihara
mulai dari sejak berdirinya kota ini (yang pernah) sebagai ibukota dari
kerajaan Romawi. Salah satu alasan mengapa kota ini dapat bertahan
sedemikian lama tanpa harus mengusik bangunan yang lama adalah karena
pembangunan kota baru dilakukan ditepian kota lama, kemudian melebar
melingkupi kota lamanya. Perjalanan wisata kota ini umumnya dilakukan
dengan berjalan kaki, karena dengan berjalan kakilah kita dapat
menyaksikan keindahan gedung-gedung tua yang ada dengan gaya bangunannya
masing-masing mulai dari pre-renesain, renesain, barok, hingga kubisme
yang dibangunan sebelah menyebelah tanpa harus menghancurkan bangunan
pada jaman sebelumnya.

Hal ini menunjukkan meskipun negeri ini pernah dilanda perang selama 30
tahun (jauh sebelum PD-1), pembangunan gedung tidak harus menghancurkan
bangunan yang telah ada sebelumnya.
Suhu saat ini di Praha berkisar 10-15C disiang hari, dan turun hingga 5C
disore hari, belum lagi jika angin bertiup yang dapat menurunkan suhu
lebih rendah lagi. Transportasi utama dikota ini adalah metro/subway,
trem, dan bus yang routenya membelah kota Praha hingga ketepi kota.
Dengan menggunakan moda transportasi tersebut saya mencoba untuk
menjelajah kota Praha, dalam mengisi waktu luang saya selama dikota ini.
Jalan Berbatu
Sebagian besar jalan di
kota Praha masih tersusun dari batu-batu alam, terdiri dari granite,
granodiorite, kwarsit, bahkan batugamping. Batuan tersebut dipotong
berbentuk kubus, berukuran sekitar 6-8 cm untuk trotoar, dan blok
berukuran 20x10 cm untuk jalan raya. Uniknya, blok tersebut disusun
dengan pola dan kombinasi warna tertentu,
yang menambah keindahan jalan-jalan disana. Hanya nggak enaknya, bila
naik mobil akan terdengar cukup bising.
Beberapa bangunan disana, yang juga dibangun dengan menggunakan
batupasir dan batugamping yang memperlihatkan struktur dan tekstur
sedimen yang unik. Bahkan ornamen2 didalam katedral Praha memperlihatkan
fossil2 nautiloid pada batugamping yang digunakan sebagai ornamennya.
Bila pengunjung lainnya menyimak keterangan dari tour guide, saya sibuk
melihat-lihat batuan yang digunakan sebagai bahan bangunan gedung-gedung
kuno di Praha.
Ada fossilnya nggak ya?
Gulash
Seperti biasa, faktor perut
alias makan bisa menjadi persoalan cukup pelik. Sarapan pagi yang
disediakan oleh hotel, adalah klasik seperti hotel2 lainnya, berupa
macam2 roti tawar yang keras, mentega, beberapa jenis selai, teh-kopi
(dan susu), beberapa jenis pastry yang manis2, sosis (yang tidak dapat
saya makan), dan buah2an. Tak ketinggalan, favorit saya, telur.
Pilihan menu untuk makan siang umumnya juga klasik, sandwich atau jenis2
fast food seperti Gyros, McDonald, KFC dan sejenisnya. Untuk yang satu
ini nggak masalah amat, karena waktu makan siang memang tidak terlalu
panjang. Paling hanya satu jam saja.
Untuk makan malam, saya mencoba mencari makanan khas disini. Setelah
tanya sana-sini, ternyata salah satu makanan khasnya adalah Goulash atau
Gulash. Gulash adalah sejenis semur daging. Berbeda dengan semur yang
biasa kita kenal, kuah Gulash lebih kental, dengan warnanya yang khas,
kecoklatan dan rasanya yang manis2 asin. Teman makan gulash adalah
sejenis roti putih dan lembut seperti bakpao, dengan rasa dan tekstur
persis seperti bakpao. Ternyata gulash bukanlah makanan khas sini,
karena gulash dapat ditemui hampir diseluruh negara-negara Eropa timur.
Katanya lho..
Pipis
Karena dinginnya cuaca,
hajat yang paling sering dilakukan adalah buang air kecil. Meskipun
sudah ditahan-tahan, ternyata hal yang satu ini tidak bisa diajak
kompromi lagi. Jadilah saya, turun disebuah stasiun kecil untuk mencari
WC, sama seperti di Indonesia ternyata namanya juga WC.
Begitu masuk WC, terdapat
loket yang dijaga oleh seorang wanita. Ternyata untuk buang air kecil,
alias Pisua (kalau saya nggak salah ingat), kita harus membayar sejumlah
4 krone Ceko. Kira-kira sejumlah 2000 perak untuk kegiatan itu. Nggak di
Jakarta, di Praha pun kita harus membayar untuk buang air kecil.
Mahal pulak!
Kartu Hallo vs Eurotel
Ternyata mengaktifkan nomor
HALO-Telkomsel saya agar dapat digunakan selama bepergian ke Luar Negeri
agak repot juga. Setelah datang ke Grapari, nomor saya ternyata tidak
dapat diaktifkan karena merupakan nomor yang dibiayai kantor, sehingga
harus ada surat bla..bla..bla.. Ujung-ujungnya saya ditawari untuk
membuka nomor baru, lebih praktis katanya.
Apanya yang praktis..?
Beberapa hari di Praha dan lost contact dengan tanah air ternyata BT
juga (ngomong2 BT apa sih artinya..?). Numpang telpon di wartelnya sana
ternyata repot juga, dingin. Numpang telpon di KBRI, bisa juga seh, tapi
harus naek metro, sambung trem, sambung bus, lantas jalan kaki naik
bukit, karena letaknya memang diatas bukit, dan juga, dingin.
Salah seorang staff KBRI, Bono, menawari saya untuk membeli nomor Praha
saja, lebih praktis dan cukup murah.
Wah ini...
Beli paket nomor dari
Eurotel, itu sejenis telkomsel-nya untuk Eropa (sesuai namanya lah)
sebesar 500 krone, dapet pulsa 350 krone.
Satu kali sms 10 krone
untuk lokal Praha/Ceko. Kalo mau keluar Ceko? Nah ini gampangnya..Kita
tinggal pencet nomornya Eurotel, *88#, lantas tinggal milih menu bahasa,
Ceko atau Inggris (untuuung ada Inggrisnya..). Lantas ikut saja perintah
yang diminta, selesai itu semua telpon saya sudah bisa aktif untuk
menghubungi bekas pacar saya.
Nah kalau mau keluar dari
Praha pegimana..? Itu juga gampang. Tinggal pencet nomor wasiat *88#,
lantas ikuti perintah sampai ada pilihan untuk memilih GoRoaming.
Voila...! Nomor saya sudah
aktif untuk seluruh dunia..! Begitu dekat, begitu nyata..! Hanya saja
tarifnya memang berbeda-beda untuk setiap negara yang kita kunjungi.
Namun yang jelas, Eurotel menjalin kerjasama dengan hampir semua
provider diseluruh dunia.
Terakhir nomor itu bisa
saya pakai sampai Hong Kong, soalnya pulsanya sudah habis. Sampai di
Cengkareng, kembali lagi ke HALO tercinta...
Motor Jawa
Motor Jawa, mereknya memang tertulis Jawa,
sebagai salah satu kendaraan bermotor produksi Ceko, ternyata sudah
semakin sulit ditemui di Praha dan sekitarnya. Kebanyakan sepeda motor
yang saya temui di Praha adalah aneka motor-besar keluaran Jepang, dan
beberapa BMW.
Dulu motor ini banyak yang lalu lalang di Jawa. Saya ingat yang saya
lihat dulu adalah beberapa motor besar warna merah, dua silinder, dua
knalpot, dengan satu karburator. Ada tulisan Jawa pada sisi samping blok
mesinnya. Atau, yang ini kalau nggak salah ingat, sepeda motor
kecil dengan engkol sepedanya.
Selama saya di Praha, saya sempat menjumpai satu motor Jawa diluar kota
Praha. Persis seperti yang saya lihat dulu semasa saya kecil. Motor
besar warna merah, dua silinder, dua knalpot dengan satu karburator.
Dengan tulisan Jawa pada sisi samping blok mesin. Namun yang ini lebih
moderen sedikit.
Tangga Miring
Untuk keliling kota, salah
satu sarana transportasi yang digunakan adalah metro atau subway, sebuah
jaringan kereta bawah tanah yang membelah kota
Praha menjadi tiga jalur utama, yang semua berpusat di Muzeum atau
Museum.
Disitu kita bisa berganti
metro untuk pergi kebagian kota Praha lainnya. Turun kestasiun metro,
mungkin 20 meter atau lebih dibawah kota, kita harus menggunakan tangga
berjalan yang cukup panjang trayeknya. Pada awalnya, saya tidak begitu
mengerti kenapa tubuh orang-orang yang naik tangga berjalan tersebut
terlihat miring, tidak seperti halnya sewaktu kita menggunakan tangga
berjalan di mall-mall di Jakarta. Baru seperempat jalan, tubuh saya
terasa oleng, hampir jatuh. Ternyata, karena kita turun dengan sudut
yang begitu curam, lebih dari 45 derajat, tubuh kita harus menyesuaikan
diri dengan sudut tersebut, dengan memiringkan tubuh kita pula.
Itu sebabnya pengguna tangga berjalan harus condong tubuhnya, membentuk
sudut lancip terhadap tangga berjalan.
Pernah Banjir
Ternyata banjir besar juga
pernah melanda Praha pada tahun 2002 yang lalu.
Kejadian itu diakibatkan
oleh hujan deras sehari-semalam, yang menyebabkan dam-dam pada sungai
Vlatava tidak mampu lagi menampung aliran sungai tersebut.
Sungai Vlatava adalah sungai besar yang membelah kota Praha. Kerugian
material memang cukup besar, mencapai ratusan milyar krone (mata uang
Ceko). Kerugian lebih besar dapat dihindari karena pemerintah setempat
sudah mengumumkan bahwa dam-dam di hulu sungai Vlatava akan dibuka
secara perlahan untuk melepas air yang sudah mencapai tinggi kritis.

Pada saat kejadian, muka
air sungai Vlatava naik hingga 10 meter, sehingga menggenangi sebagian
besar kota Praha. Dari sekitar 10 jembatan yang melintasi sungai
Vlatava, hanya ada 1 jembatan yang layak untuk digunakan dengan aman.
Kejadian itu diabadikan
dengan beberapa plat tembaga yang dipasang pada beberapa sudut kota
Praha, yang menunjukkan ketinggian air pada saat itu. Malah beberapa
bangunan sengaja tidak mengganti cat luar gedungnya yang memiliki bekas
tinggi genangan.
MAHID
Awalnya saya pikir itu
adalah istilah atau kata dalam bahasa Ceko untuk mahasiswa. Ternyata
MAHID adalah kepanjangan dari MaHasiswa Ikatan Dinas. Julukan tersebut
ternyata ditujukan kepada (ex) para mahasiswa Indonesia yang dikirimkan
untuk studi ke negara-negara satelit Uni Sovyet untuk studi dengan biaya
negara. Program tersebut dicanangkan oleh presiden Soekarno, pada awal
1960an, dengan mengirimkan banyak mahasiswa kenegara-negara sosialis,
termasuk Cekoslowakia (waktu itu).
Setelah peristiwa G30S,
banyak diantara mereka yang memutuskan untuk tinggal dinegara/kota
dimana mereka ditugaskan untuk belajar, dengan berbagai alasan. Bertemu
dengan beberapa diantara mereka, layaknya bertemu dengan paman, oom,
atau paklik, namun dengan logat Bahasa Indonesia era 60an. Bahasa
Indonesia yang mereka gunakan, buat saya, sangatlah unik, karena banyak
kosa kata baku yang masih mereka pergunakan dalam percakapannya.
Merekalah, diantaranya,
yang menjadi guide saya selama beberapa saat menjelajah kota Praha
dengan berjalan kaki. Mereka fasih berbahasa Ceko (yang sulit). Karena
mereka juga (pernah) belajar mengenai sejarah Ceko(Slowakia), cerita
mereka tentang Praha menjadi menarik untuk didengar, terlebih dengan
menggunakan Bahasa Indonesia era 60an. Kebanyakan mereka telah telah
menjadi warga negara Ceko, dan menikah dengan penduduk setempat.
Meskipun demikian mereka tetap mengaku sebagai orang Indonesia, dan
berkeinginan pulang ke Indonesia.
Praha, kota tua, dengan guide tua dari Indonesia.
Bob Wikan H. Adibrata